Selasa, 16 Juni 2009

Berhutang Untuk Aqiqah

Tanya:Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh
Ahlan wa sahlan ustadz..., Ana Abu fathimah.. mau nanya: Bolehkah jika kita mengaqiqahi anak kita, dengan beli kambingnya pake uang utang? Dengan maksud bahwa utang tsb akan segera dibayarkan ( 2 sd 5 bulan insya allah).Minta jawaban ustadz..Jazakallahu khoiran.Wassalamu'alaikumwarahmatullahi wa barakatuh. (Abu Fathimah)


Jawab:
Seorang muslim dituntut untuk menghidupkan sunnah-sunah nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,. Aqiqah hukumnya sunnah muakkadah dan tidak wajib menurut pendapat yang kuat, dan hendaknya orang yang memiliki kemampuan melaksanakan sunnah ini.
Adapun orang yang belum mampu saat itu maka jika dia memiliki sumber penghasilan yang dia berharap bisa membayar hutang dengannya di kemudian hari maka tidak mengapa dia berhutang
Imam Ahmad rahimahullahu berkata:
إذا لم يكن عنده ما يعق فاستقرض رجوت أن يخلف الله عليه إحياء سنة
"Kalau dia tidak memiliki harta untuk aqiqah kemudian berhutang maka aku berharap Allah menggantinya karena dia telah menghidupkan sunnah " (Al-Mughny, Ibnu Qudamah 13/395)
Namun kalau tidak memiliki penghasilan tetap maka jangan dia berhutang karena nanti akan memudharati dia dan orang yang menghutanginya. (Lihat Kasysyaf Al-Qina' 'an Matnil Iqna', Manshur bin Yunus Al-Bahuti 2/353)
Allah ta'ala berfirman:
)فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ)(التغابن: من الآية16)
"Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian"
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu:
وأما الاستقراض من أجل العقيقة فينظر، إذا كان يرجو الوفاء كرجل موظف، لكنه صادف وقت العقيقة أنه ليس عنده دراهم، فاستقرض من شخص حتى يأتي الراتب، فهذا لا بأس به، وأما إذا كان ليس له مصدر يرجو الوفاء منه، فهذا لا ينبغي له أن يستقرض
"Dan adapun meminjam uang untuk keperluan aqiqah maka dilihat, kalau dia berharap bisa mengembalikan seperti seorang pegawai misalnya, akan tetapi ketika waktu aqiqah dia tidak memiliki uang, kemudian dia meminjam uang sampai datang gaji maka ini tidak mengapa, adapun orang yang tidak punya sumber penghasilan tetap yang dia berharap bisa membayar hutang dengannya maka tidak selayaknya dia berhutang" (Liqa Al-Babil Maftuh, Al-Maktabah Asy-Syamilah)
Wallahu ta'ala a'lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar