Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Apakah Membaca Al-Asmaul Husna Bisa Mendatangkan Jin (Khodam)?

Tanya: Benarkah asmaul husna dapat mendatangkan jin (khodam), lalu bagaimana pendapat yang jelas?

Jawab: Alhamdulillah rabbil 'aalamiin, washshalaatu wassalaamu 'alaa rasuulillah, wa 'alaa aalihii wa shahbihi ajma'iin.
Seorang muslim tidak diperkenankan berbicara, mengamalkan atau meyakini sesuatu yang berkaitan dengan nama-nama Allah kecuali dengan dalil dari Al-Quran dan As-Sunnah yang shahihah.
Dan tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa Al-Asmaaul Husnaa digunakan untuk mendatangkan jin atau khodam. Bahkan ini termasuk penyelewengan dalam menggunakan nama-nama Allah ta'aalaa. Allah ta'aalaa berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [الأعراف/180]
Artinya: "Hanya milik Allah asma-ul husna, maka mohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." (QS. 7:180)
Adapun keberhasilan sebagian orang dalam mendatangkan jin dengan membaca Al-Asmaaul Husnaa maka ini tidak bisa dijadikan dalil, karena kedatangan jin tersebut bukan karena Al-Asmaul Husnanya, akan tetapi ada faktor lain, seperti membaca Al-Asmaaul Husnaa dicampur dengan nama jin, atau mantra-mantra yang mengandung kesyirikan.
Berkata Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah:
وقد يغلو بعض الناس في هذا الباب فيزعمون أن لكل اسم من أسماء الله الحسنى خواص وأسرارا تتعلق به، وأن لكل اسم خادما روحانيا يخدم من يواظب على الذكر به....وهذا فتح لباب الخرافة على مصراعيه، بل إن كثيرا من السحرة والمشعوذين دخلوا من هذا الباب كيدا للناس وتحصيلا للمطامع ونشرا للشر
"Dan sebagian manusia berlebih-lebihan dalam bab ini (al-asmaul husna), mereka menyangka bahwa setiap nama dari nama-nama Allah yang baik memiliki kekhususan dan rahasia-rahasia yang berkaitan dengannya, dan bahwasanya setiap nama tersebut memiliki khadam yang membantu orang yang senantiasa membacanya…, dan keyakinan seperti ini membuka lebar pintu khurafat, bahkan sesungguhnya kebanyakan tukang sihir dan dukun-dukun menggunakan cara ini untuk menipu manusia, menghasilkan apa yang mereka inginkan, dan menyebarkan kejahatan" (Fiqh Al-Asmaaul Husnaa hal:68)
Dan seorang muslim hendaknya meninggalkan perbuatan meminta bantuan jin, meskipun untuk tujuan yang diperbolehkan, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak pernah melakukannya, demikian pula para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum. Dan juga dikhawatirkan terjerumus dalam hal yang terlarang seperti kesyirikan, karena sangat lihainya jin menipu dan menyesatkan manusia dari jalan Allah. Wallahu a'lam.



Abdullah Roy Read More......

Senin, 26 September 2011

Allaah ta'aalaa Berbicara Dengan Huruf Dan Suara

Tanya: Ustadz ,bagaimana cara menjelaskan kepada orang yang tidak mau mengimani bahwa Alloh bicara dengan suara dan huruf, dengan alasan karena katanya suara dan huruf itu makhluk? Sekalian ustadz dalil yang jelas yang menyatakan bahwa Alloh berbicara dengan suara. (Shalaca)

Jawab:
Alhamdulillah rabbil 'alamin, washsholaatu wassalaamu 'laa rasuulillah wa 'alaa washahbihi ajma'iin.
Dalil-dalil dan atsar para salaf telah menunjukkan bahwa Allah ta'aalaa berbicara dengan suara dan huruf.
Diantara dalil yang menunjukkan bahwa Allah ta'aalaa berbicara dengan suara adalah
sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:
يحشر الله العباد فيناديهم بصوت يسمعه من بعد كما يسمعه من قرب أنا الملك أنا الديان
Artinya: "Allah akan mengumpulkan hamba-hamba pada hari kiamat, kemudian Allah memanggil mereka dengan suara yang terdengar dari jarak jauh seperti suara yang terdengar dari jarak dekat: Aku adalah Al-Malik (Maha Raja), Aku adalah Ad-Dayyaan (Maha Membalas)…(HR. AL-Bukhary, dari Abdullah bin Unais radhiyallahu 'anhu).
Berkata Al-Bukhary rahimahullah:
وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنَادِي بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ ، فَلَيْسَ هَذَا لِغَيْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ذِكْرُهُ، وَفِي هَذَا دَلِيلٌ أَنَّ صَوْتَ اللهِ لا يُشْبِهُ أَصْوَاتَ الْخَلْقِ ، لأَنَّ صَوْتَ اللهِ جَلَّ ذِكْرُهُ يُسْمَعُ مِنْ بُعْدٍ كَمَا يُسْمَعُ مِنْ قُرْبِ
"Dan sesungguhnya Allah azza wa jalla memanggil dengan suara , dimana orang yang jauh mendengar suara ini seperti orang yang dekat, maka ini tidak mungkin dimiliki oleh selain Allah 'azza wa jalla, dan ini dalil bahwa suara Allah tidak sama dengan suara-suara makhluk , karena suara Allah didengar dari jarak jauh seakan-akan didengar dari jarak dekat" (Khalqu Af'aalil 'Ibaad hal: 98).
Dan dari Abu Sa'iid Al-Khudry radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
يقول الله عز و جل يوم القيامة: يا آدم، يقول: لبيك ربنا وسعديك، فينادى بصوت إن الله يأمرك أن تخرج من ذريتك بعثا إلى النار
"Allah 'azza wa jalla berkata di hari kiamat: Wahai Adam! Adam menjawab: Iya wahai Rabb kami. Maka Allah memanggil dengan suara: Sesungguhnya Allah akan memasukkan dari keturunanmu ba'tsan ke dalam neraka …" (HR. Al-Bukhary)
Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal: "Aku bertanya kepada bapakku tentang sebuah kaum yang mengatakan bahwa Allah berbicara dengan Musa tanpa suara". Maka bapakku (Imam Ahmad bin Hambal) berkata:
بلى إن ربك عز وجل تكلم بصوت هذه الأحاديث نرويها كما جاءت
"Tidak demikian, sesungguhnya Rabbmu 'azza wa jalla berbicara dengan suara , hadist-hadist ini kami riwayatkan sebagaimana datangnya" (Diriwayatkan Abdullah dalam As-Sunnah no:533)
Adapun dalil bahwa kalamullah terdiri dari huruf maka diantaranya:
Dari Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma beliau berkata:
بينما جبريل قاعد عند النبي صلى الله عليه و سلم سمع نقيضا من فوقه فرفع رأسه فقال هذا باب من السماء فتح اليوم لم يفتح قط إلا اليوم فنزل منه ملك فقال هذا ملك نزل إلى الأرض لم ينزل قط إلا اليوم فسلم وقال أبشر بنورين أوتيتهما لم يؤتهما نبي قبلك فاتحة الكتاب وخواتيم سورة البقرة لن تقرأ بحرف منهما إلا أعطيته
"Ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba Jibril mendengar suara pintu dari arah atas, kemudian mengangkat kepalanya, seraya berkata: "Ini adalah pintu langit, telah dibuka hari ini, belum pernah dibuka kecuali hari ini"
Maka turunlah seorang malaikat dari pintu tersebut, kemudian Jibril berkata: "Ini adalah seorang malaikat yang turun ke bumi, dia belum pernah turun kecuali hari ini"
Maka malaikat tersebut mengucap salam dan berkata: "Bergembiralah dengan dua cahaya, yang diberikan kepadamu, belum pernah diberikan kepada seorang nabipun sebelummu, Faatihatul Kitab (Al-Faatihah) dan ayat-ayat akhir surat Al-Baqarah, tidaklah kamu membaca satu huruf di dalam keduanya kecuali kamu akan diberi" (HR. Muslim).
'Abdullah bin Mas'uud radhiyallahu 'anhu mengatakan:
تعلموا القرآن فإنه يكتب بكل حرف منه عشر حسنات ويكفر به عشر سيئات ، أما إني لا أقول : { الم } ولكن أقول : ألف عشر ولام عشر وميم عشر.
"Pelajarilah Al-Quran, karena sesungguhnya akan ditulis dari setiap hurufnya sepuluh kebaikan, dan diampuni dengannya sepuluh kejelekan, ketahuilah aku tidak mengatakan bahwa Aliif Laam Miim (itu satu huruf), akan tetapi aku katakana: Aliif sepuluh, Laam sepuluh, dan Miim sepuluh" (HR. Ibnu Abi Syaibah 10/461, hadist shahih mauquf atas Ibnu Mas'uud, dan memiliki hukum marfu' kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam).

Dan penetapan ahlussunnah terhadap sifat-sifat Allah yang tercantum di dalam Al-Quran dan As-Sunnah disertai keyakinan bahwa sifat-sifat tersebut tidak serupa dengan sifat-sifat makhluk, sebagaimana firman Allah:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (11) [الشورى/11]
Artinya: "Tidak ada yang serupa denganNya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha melihat" (QS. Asy-Syuuraa:11)
Allah Maha Melihat dan Mendengar, akan tetapi penglihatan dan pendengaran Allah tidak sama dengan penglihatan dan pendengaran makhlukNya.
Wallahu a'lam.


Abdullah Roy Read More......

Selasa, 13 September 2011

Beriman Dengan Nama-Nama Malaikat Sepuluh

Tanya: Assalamualaikum. Ustadz, benarkah iman kepada malaikat itu wajib mengetahui nama malaikat yang sepuluh? Lalu darimana penamaan malaikat yang sepuluh itu, adakah dalam alquran atau hadist? (Abu Abdillah)

Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillah washshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillaah wa 'alaa 'aalihii washahbihii ajma'iin.
Diantara bentuk iman kepada malaikat adalah beriman dengan nama beberapa malaikat yang telah Allah sebutkan dalam Al-Quran atau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebutkan dalam hadist-hadist yang shahih.
Nama-nama malaikat yang kita ketahui diantaranya:
1. Jibril
Allah ta'aalaa berfirman:
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِجِبْرِيلَ فَإِنَّهُ نَزَّلَهُ عَلَى قَلْبِكَ بِإِذْنِ اللَّهِ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ (97) [البقرة/97]
Artinya: Katakanlah, "Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (Alquran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. (QS. 2:97)
2. Mikail
Allah ta'aalaa berfirman:
مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِلَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَجِبْرِيلَ وَمِيكَالَ فَإِنَّ اللَّهَ عَدُوٌّ لِلْكَافِرِينَ (98) [البقرة/98Artinya: Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang yang kafir." (QS. 2:98)
3. Israfil
Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda:
اللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: " Ya Allah , Rabb Jibril , Mikail , dan Israfil , Pencipta langit-langit dan bumi , Yang Maha Mengetahui perkara ghaib dan yang kelihatan !Engkaulah yang menghukumi diantara hamba-hambaMu di dalam apa yang mereka perselisihkan , tunjukilah aku kepada kebenaran dengan izinMu , sesungguhnya Engkau menunjuki siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus .( HR. Muslim 4 / 168 no : 1289 )
4. Malik
Allah ta'aalaa berfirman:
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ قَالَ إِنَّكُمْ مَاكِثُونَ (77) [الزخرف/77]
Artinya: Mereka berseru:"Hai Malik, biarlah Rabbmu membunuh kami saja".Dia menjawab:"Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini)". (QS. 43:77)
5. Al-Munkar dan An-Nakir
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إذا قبر الميت ( أو قال أحدكم ) أتاه ملكان أسودان أزرقان ( يقال لأحدهما المنكر والآخر النكير
Artinya: Apabila mayit dikuburkan (atau salah seorang diantara kalian), maka dia akan didatangi dua malaikat yang hitam, dan biru (matanya), yang satu bernama Al-Munkar dan yang lain bernama An-Nakir. (HR.At-Tirmidzy dan dihasankan Syeikh Al-Albany).
6. Harut dan Marut
Allah berfirman:
وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ [البقرة/102]
Artinya: Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut. (QS. 2:102).
Ini adalah diantara nama-nama malaikat yang kita ketahui berdasar dalil yang shahih, dan tidak boleh bagi seorang muslim menamai malaikat tanpa berlandaskan dalil yang shahih, seperti misalnya:
1. Izrail
Allah menyebutkan dalam Al-Quran malakul maut (malaikat pencabut nyawa ), namun tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa namanya Izrail .
Allah berfirman : (قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ) (السجدة:11)
Artinya: Katakanlah:"Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Rabbmulah kamu akan dikembalikan. (QS. 32:11)
2. Ridhwan
Allah menyebutkan dalam Al-Quran bahwa surga memiliki penjaga, namun tidak ada dalil yang shahih yang menunjukkan bahwa namanya Ridhwan .
Allah berfirman :
)وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَراً حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ) (الزمر:73)
Artinya: Dan orang-orang yang bertaqwa kepada Rabbnya dibawa ke surga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu dan dibuka pintu-pintunya, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:"Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian, berbahagialah kalian! maka masuklah kalian ke dalam surga, sedang kalian kekal di dalamnya" (QS. 39:73)
3. Raqib 'Atid
Sebagian menyangka bahwa ini adalah nama malaikat pencatat amal . Mereka berdalil dengan firman Allah :
)مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ) (قّ:18 (
Artinya: Tiada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. 50:18)
Namun tafsiran yang benar adalah bahwasanya Raqib 'Atid adalah sifat , bukan nama . Diantara makna Raqib : Hafidz ( yang menjaga ) , dan makna 'Atid : Hadhir ( yang hadir ). (Lihat Tafsir Al-Qurthuby 17/11 )
Wallahu a'lam.



Abdullah Roy Read More......

Minggu, 04 September 2011

Menjampi Tanah Supaya Rumah Laku

Tanya: Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuhu. Saya bermaksud menjual rumah, setelah sekian lama belum laku juga, ada kawan menyarankan agar di sareatan (istilah sunda) yaitu mengambil segenggam tanahnya lalu diberi do'a-do'a (jampi-jampi) dan dikembalikan ke tempat semula. Saya belum menyetujuinya, karena menurut saya agak 'berbau' syirik. Mohon pendapat anda, terima kasih.
Wassalam. (Muldan Kusumah)

Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillah rabbil 'alamin, wa shallallahu 'alaa nabiyyinaa Muhammadin wa alihi washahbihii wa sallam.
Allah ta'aalaa Dialah yang telah menciptakan mashlahat dan mudharrat, dan menciptakan sebab-sebabnya. Tidak boleh seseorang menyatakan bahwa suatu amalan adalah sebab mashlahat atau mudharrat kecuali dengan dalil syar'iy atau dari pengalaman yang teruji dan jelas sebabnya.
Mengambil segenggam tanah dari rumah yang mau dijual, kemudian dibacakan doa atau jampi-jampi , kemudian menaruhnya kembali di tempat semula, dengan maksud supaya segera laku dijual adalah sebab yang tidak berdasarkan dalil dan juga tidak berdasarkan pengalaman yang sebabnya jelas. Apabila orang yang melakukannya hanya meyakini itu sebab maka dia terjerumus dalam syirik kecil, karena dia telah meyakini sesuatu yang pada hakikatnya bukan sebab sebagai sebab, namun bila dia meyakini bahwa tanah itulah yang kemudian memberi manfaat dan mudharrat dengan sendirinya maka dia telah terjerumus dalam syirik besar.
Cukuplah bagi sering muslim mengambil sebab-sebab yang syar'iy dan diperbolehkan seperti iklan di media, berdoa kepada Allah dengan adab-adab doa, mencari sebab tidak lakunya dan menyelesaikannya dengan cara yang syar'iy, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah ta'aalaa.
Wallahu a'lam.



Abdullah Roy
Read More......

Minggu, 21 Agustus 2011

Mahluk Yang Pertama Allah Ciptakan

Tanya: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Dengan hormat, saya ingin penjelasan tentang apa yang pertama kali diciptakan oleh Allah. Terima kasih. (Iwan)

Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Bismillahi washshalatu wassalamu 'alaa rasulillah wa 'alaa aalihi washahbihi ajma'in.
Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa mahluk pertama adalah Al-Qalam (pena yang menulis taqdir di Al-Lauhil Mahfuzh), mereka berdalil dengan hadist 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda:
إن أوَّلَ ما خلق اللهُ تعالى القلمُ فقال له: اكتب! فقال: رب وماذا أكتب ؟ قال: اكتب مقادير كل شىء حتى تقوم الساعة
Artinya: "Sesungguhnya mahluk yang pertama kali Allah ciptakan adalah Al-Qalam, kemudian Allah berfirman kepadanya: Tulislah! Kemudian Al-Qalam berkata:Wahai Rabbku, apa yang aku tulis? Allah berfirman: Tulislah taqdir segala sesuatu sampai datang hari kiamat" (HR.Abu Dawud dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).
Namun disana ada hadist lain yang menunjukkan bahwa ketika pena menulis ternyata Al-'Arsy dan air telah diciptakan, sebagaimana dalam hadist Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihiwasallam bersabda:
كتب الله مقادير الخلائق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة قال وعرشه على الماء
Artinya: "Allah telah menulis taqdir semua mahluk 50 ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi, dan Arsy Allah berada di atas air." (HR. Muslim).
Oleh karena sebagian ulama berpendapat bahwa al-'Arsy dan air lebih dahulu dicipta daripada Al-Qalam, mereka menfathah kata القلم dalam hadist 'Ubadah bin Ash-Shamit sehingga artinya menjadi: "Sesungguhnya ketika diawal Allah menciptakan Al-Qalam Allah berfirman kepadanya: …."
Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu:
فهذا القلم خلقه لما أمره بالتقدير المكتوب قبل خلق السموات والأرض بخمسين ألف سنة وكان مخلوقا قبل خلق السموات والأرض وهو أول ما خلق من هذا العالم وخلقه بعد العرش كما دلت عليه النصوص وهو قول جمهور السلف
"Al-Qalam ini Allah ciptakan ketika Allah memerintahkannya menulis taqdir semenjak 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi, jadi Al-Qalam tersebut diciptakan sebelum langit dan bumi, dan dia adalah mahluk pertama yang pertama dicipta sebelum alam semesta, dan penciptaannya setelah Al-'Arsy , sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil dan inilah pendapat jumhur salaf" (Majmu' Al-Fatawa 18/213).
Berkata Ibnu Abil Izz rahimahullah:

فهذا صريح أن التقدير وقع بعد خلق العرش والتقدير وقع عند أول خلق القلم بحديث عبادة هذا ولا يخلو قوله : [ أول ما خلق الله القلم ] إلخ - إما أن يكون جملة أو جملتين فإن كان جملة وهو الصحيح كان معناه : أنه عند أول خلقه قال له : اكتب [ كما في اللفظ : [ أول ما خلق الله القلم قال له : اكتب ] ] بنصب أول و القلم وإن كان جملتين وهو مروي برفع أول و القلم فيتعين حمله على أنه أول المخلوقات من هذا العالم فيتفق الحديثان
"Hadist ini jelas menunjukkan bahwa taqdir terjadi setelah penciptan Al-Arsy, dan taqdir terjadi di awal penciptaan Al-Qalam sebagaimana dalam hadist'Ubadah ini, dan sabda beliau shallallahu 'alaihiwasallam: أول ما خلق الله القلم …sampai akhir ,tidak keluar dari 2 kemungkinan; pertama: hadist ini terdiri dari dari satu kalimat, kedua: hadist ini terdiri dari 2 kalimat.
Apabila hadist ini terdiri dari satu kalimat –dan ini yang shahih- maka maknanya: Sesungguhnya di awal penciptaan Al-Qalam, Allah berkata kepadanya: Tulislah !....sebagaimana dalam sebuah lafadz: "Di awal Allah menciptakan Al-Qalam, Allah berkata kepadanya: Tulislah", dengan menashab kata: أول dan القلم
Apabila hadist ini terdiri dari 2 kalimat , yang diriwayatkan dengan merafa' أول dan قلم maka maknanya harus dibawa kepada mahluk yang pertama di alam semesta ini.
Dengan demikian sepakatlah dua hadist ini " (Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah 2/345)
Berkata Ibnu Hajar Al-'Asqalani rahimahullahu:
فيجمع بينه وبين ما قبله بأن أولية القلم بالنسبة إلى ما عدا الماء والعرش أو بالنسبة إلى ما منه صدر من الكتابة أي أنه قيل له اكتب أول ما خلق
"Maka cara menjamak antara kedua hadist bahwa maksud pertamanya Al-Qalam adalah dibandingkan segala sesuatu selain air dan arsy, atau pertama dibandingkan dengan apa yang dia tulis" (Fathul Bary 6/289).
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin :
ظاهر كلام المؤلف : الميل إلى أن القلم أول مخلوقات الله ، ولكن الصحيح خلافه ، وأن القلم ليس أول مخلوقات الله ، لأنه ثبت في " صحيح البخاري " : " كان الله ولم يكن شيء قبله ، وكان عرشه على الماء ، ثم خلق السماوات والأرض وكتب في الذكر مقادير كل شيء " ، وهذا واضح في الترتيب ، ولهذا كان الصواب بلا شك أن خلق القلم بعد خلق العرش ، وسبق لنا تخريج الروايتين ، وأنه على الرواية التي ظاهرها أن القلم أول ما خلق تحمل على أنه أول ما خلق بالنسبة لما يتعلق بهذا العالم المشاهد ، فهو قبل خلق السماوات والأرض ، فتكون أوليته نسبية .
" Yang nampak dari ucapan penulis (Syeikh Muhammad bin Abdulwahhab) bahwa beliau condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qalam adalah mahluk Allah yang pertama, akan tetapi yang shahih justru sebaliknya, bahwasanya Al-Qalam bukanlah mahluk Allah yang pertama, karena telah datang riwayat di dalam Shahih Al-Bukhary : "Allah ada dan tidak ada sesuatupun sebelumNya, dan ArsyNya di atas air, kemudian Allah menciptakan langit dan bumi, dan menulis di Adz-Dzikr (Al-Lauhil Mahfuzh) taqdir segala sesuatu"
Hadist ini jelas urutannya, oleh karena itu yang benar dan tidak diragukan lagi bahwa penciptaan Al-Qalam setelah penciptan Al-Arsy, dan telah berlalu takhrij dua riwayat hadist ini, dan riwayat yang nampaknya menunjukkan bahwa Al-Qalam adalah mahluk yang pertama dibawa kepada makna lain, yaitu bahwa dia adalah mahluk yang lebih awal dibandingkan segala yang berkaitan dengan alam semesta yang terlihat ini, maka penciptaan Al-Qalam adalah sebelum penciptaan langit dan bumi, jadi pertamanya Al-Qalam dalam hadist ini nisbi (relatif)" (Al-Qaulul Mufid 3/195)

Kesimpulan yang bisa kita ambil dari hadist-hadist dan ucapan para ulama di atas bahwa Al-Arsy dan air lebih dahulu diciptakan daripada Al-Qalam, namun bukan berarti maknanya Al-Arsy adalah mahluk yang pertama kali Allah ciptakan secara mutlak, karena yang demikian butuh dalil yang jelas dan shahih. (Lihat lebih jelasnya perkataan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa 18/217).
Wallahu a'lam.


Abdullah Roy

Read More......

Sabtu, 20 Agustus 2011

Apakah Boleh Mandi Bersamaan Ketika Jenazah Dimandikan?

Tanya: Assalamualaikum. Ibu mertua saya berpulang, pada saat jenazah sedang dimandikan, anak saya mandi juga dirumah saya bukan di rumah mertua saya karena anak saya tidak tahu, anak saya berumur 9 tahun. Jenazah belum selesai dimandikan tapi anak saya sudah selesai memakai baju dan saya kaget, katanya tidak boleh mandi bersamaan dengan jenazah.Saya mohon penjelasannya, apa yang harus saya lakukan?(Indun)

Jawab:
Wa'alaikumsalam. Ketahuilah bahwa manfaat dan mudharrat ada di tangan Allah semata, tidak boleh kita meyakini sesuatu memberi manfaat atau mudharrat kecuali dengan kabar dari Allah dan RasulNya. Dan kami tidak mengetahui ada dalil yang melarang mandi jika waktunya bersamaan dengan proses pemandian jenazah, bahkan dikhawatirkan ini termasuk bentuk tasya’um (merasa sial terhadap sesuatu) yang dilarang Nabi shallallahu 'alaihiwasallam, jika ada orang yang mandi bersamaan dengan waktu proses pemandian jenazah di rumah yang sama maka orang yang mandi tersebut bisa terkena bahaya atau bahkan bisa ikut mati, jelas ini bentuk tasya’um yang dilarang.Allohu A’lam.


Syahrul Fatwa
Read More......

Minggu, 31 Juli 2011

Seputar Makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam

Tanya: Apa benar makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang di dekat Masjid Nabawi itu? Terus ceritanya bagaimana kok makamnya dibikin bangunan/dibangun, sedangkan Rosulullah sendiri melarangnya, termasuk masjid yang di dalamnya ada makamnya kan tidak boleh juga. Apa benar dulu sempat ada rencana pencurian jenazah Rosulullah oleh orang nasrani?
Terus apa benar dulu pernah mau dibongkar oleh "Wahabi", dan apa alasannya? Jazakallahukhairan. (Mimin Deca Kurniawan)

Jawab:
Alhamdulillah washshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillah, wa 'alaa aalihi wa shahbihi ajma'in.
Makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terletak di rumah Ummul Mu'minin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, yang dahulu letaknya disamping kiri masjid nabawi, tempat yang sekarang dikenal sebagai kuburan beliau shallallahu 'alaihi wasallam.
Dari Ummul Mu'minin 'Aisyah radhiyallahu 'anhaa beliau berkata:
فلما كان يومي قبضه الله بين سحري ونحري ودفن في بيتي
Artinya: "Maka ketika sampai di hari giliranku, Allah ta'ala mencabut ruh beliau sedangkan beliau berada diantara dada dan leherku, dan beliau dikubur di rumahku" (HR.Al-Bukhary)
Para ulama menyebutkan bahwa hal ini adalah menjadi kesepakatan (ijma') kaum muslimin.
Berkata Ibnu Abdil Barr rahimahullah:
ولا خلاف بين العلماء أن رسول الله صلى الله عليه و سلم دفن في الموضع الذي مات فيه من بيته بيت عائشة ( رضي الله عنها ) ثم أدخلت بيوته المعروفة لأزواجه بعد موته في مسجده فصار قبره في المسجد صلى الله عليه و سلم
Artinya: "Dan tidak ada khilaf diantara para ulama bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dikuburkan di tempat beliau meninggal, yaitu di rumah beliau, tepatnya di rumah 'Aisyah radhiyallahu 'anha kemudian sepeninggal beliau , dimasukkanlah rumah-rumah istri beliau ke dalam masjid, sehingga jadilah kuburan beliau di dalam masjid" (Al-Istidzkar 8/287-288).
Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah:
ليس في الأرض قبر نبي معلوم بالتواتر والإجماع إلا قبر نبينا وما سواه ففيه نزاع
Artinya: "Tidak ada di dunia ini kuburan nabi yang diketahui secara mutawatir dan ijma' (sepakat) kecuali kuburan nabi kita, adapun yang lain maka terdapat perselisihan" (Majmu' Al Fatawa 27/254).
Adapun bangunan yang berada di atas kuburan nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka sebagaimana yang kami sampaikan di atas bahwa beliau dikubur di dalam rumah. Dan para sahabat radhiyallahu 'anhum sengaja tidak membongkar rumah 'Aisyah karena ditakutkan nanti dijadikan tempat shalat atau sujud, sebagaimana ucapan 'Aisyah:
عن عائشة رضي الله عنها قالت : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم في مرضه الذي لم يقم منه: ( لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد ) . لولا ذلك أبرز قبره غير أنه خشي أو خشي أن يتخذ مسجدا
Artinya: Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda disaat beliau sakit yang beliau tidak bisa bangun karenanya: "Allah melaknat orang-orang yahudi dan nashrani, yang telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (atau tempat bersujud)". Kemudian 'Aisyah berkata: Kalau bukan karena sabda nabi ini niscaya akan dinampakkan kuburan beliau, akan tetapi hal itu tidak dilakukan karena takut dijadikan tempat bersujud (shalat).(Muttafaqun 'alaihi).
Makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam awalnya bukan di dalam masjid, sampai di masa Al-Khulafa Ar-Rasyidin juga demikian, kemudian ketika para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meninggal semua, dan Al-Walid bin Abdul Malik (antara tahun 80 H-100 H) memegang pemerintahan beliau memerintahkan gubernur Madinah saat itu, Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu, untuk memperluas masjid Nabawi karena kaum muslimin yang semakin hari semakin banyak. Namun yang disayangkan adalah diperluasnya masjid nabawi ke arah timur sehingga masuklah rumah 'Aisyah yang di dalamnya ada makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar ke dalam area masjid. Para ulama saat itu -diantaranya adalah tujuh ahli fiqh Madinah di zaman tabi'in- mengingkari dengan lisan perluasan ke arah timur ini, karena hadist-hadist menunjukkan larangan membangun masjid di atas kuburan.
Adapun usaha pencurian jasad Nabi shallallahu 'alaihi wasallam oleh orang nashrani maka ceritanya ada di kitab Wafaa'ul Wafaa (2/431-433) karangan As-Samhudi (wafat 911 H), namun sebagian ulama meragukan kebenaran kisah ini.
Tidak benar berita bahwa orang-orang yang dinamakan oleh sebagian orang dengan "Wahabi" pernah mau membongkar kuburan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan memindahkan jenazahnya. Bagaimana mereka melakukannya sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
ما قبض الله نبيا إلا في الموضع الذي يحب أن يدفن فيه
Artinya: "Allah tidak mencabut ruh seorang nabi kecuali di tempat yang dia (nabi tersebut) ingin supaya dia dikuburkan disitu" (HR. At-Tirmidzy, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).
Wallahu a'lam.


Abdullah Roy Read More......

Senin, 19 Oktober 2009

Makna Kalimat: Demi bapak dan ibuku

Tanya: Assalamualaikum. Ustadz. Barokalloh fiik. Ana memiliki pertanyaan yang sampai saat ini belum menjumpai jawabannya. Yaitu, sebagaimana kita fahami bersama bahwa sumpah harus semata-mata kepada Alloh. Namun, bagaimana dengan ucapan sumpah yang pernah di lontarkan oleh Shohabat ABu Bakar, beliau mengatakan:" Demi Bapak dan ibuku. Lalu bagaimana cara membedakan sumpah di atas.?? Jazakumuloh khoiron. (Mukhlish Abu Dzar Al-Batawy)


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Wa fiika barakallahu.
Kalimat بأبي وأمي bukanlah termasuk sumpah, akan tetapi dia adalah kalimat yang digunakan oleh orang arab untuk mengungkapkan dalamnya rasa cinta kepada seseorang dan tingginya kedudukan dia. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj, An-Nawawy 15/184).
Asal dari kalimat ini adalah: أنت مَفْدِيٌّ بأبي وأمي atau فَدَيْتُكَ بأبي وأمي artinya: Aku akan menebusmu dengan bapak dan ibuku (yaitu apabila terjadi sesuatu yang tidak baik), kemudian disingkat menjadi: بأبي وأمي karena sering digunakan dan juga karena sudah maklumnya (diketahuinya) orang yang dimaksud. (Lihat An-Nihayah fii gharibil Hadist wal Atsar, Ibnul Atsir 1/20 cet. Dar Ihya At-Turats Al-'Araby, dan Lisanul 'Arab, Ibnu Mandhur hal: 17 cet.Darul Ma'arif,)
Jadi kalau mau diartikan maka diartikan lengkap menjadi: "Aku akan menebusmu dengan bapak dan ibuku", atau "Bapak dan ibuku menjadi tebusanmu" dll, bukan "Demi bapak dan ibuku" yang berarti sumpah.
Wallahu ta'ala 'alam.
Read More......

Rabu, 07 Oktober 2009

Tabarruk (Mencari Berkah) Dengan Al-Quran

Tanya: Assalamualaikum Ustadz, Ana mau tanya, apakah diperbolehkan seseorang menaruh di rumah atau tempat usaha tulisan Alquran yang dibungkus kain yang diberikan oleh Habaib /Kiyai dengan tujuan agar Tempat Usaha tersebut berkah, dijauhkan dari bencana, godaan mahluk halus, laris, dll? Apakah pada jaman Nabi ada hal2 seperti tsb?Mohon jawaban dan penjelasannya... Salam, (Fahmi)


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi waarakatuhu. Al-Quran diturunkan oleh Allah ta'ala sebagai kitab yang berbarakah, sebagaimana firmanNya:
(وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ يُحَافِظُونَ) (الأنعام:92)
" Dan ini (al-Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada hari akhirat tentu beriman kepadanya (al-Qur'an) dan mereka selalu memelihara shalatnya. (QS. 6:92)
Dan firmanNya:
(وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ) (الأنعام:155)
"Dan al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkahi, maka ikutilah dia dan bertaqwalah agar kamu diberi rahmat" (QS. 6:155)
Dan firmanNya:
(وَهَذَا ذِكْرٌ مُبَارَكٌ أَنْزَلْنَاهُ أَفَأَنْتُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ) (الانبياء:50)
" Dan al-Qur'an ini adalah suatu kitab(peringatan) yang telah diberkahi yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kalian mengingkarinya?" (QS. 21:50)
Dan firmanNya:
(كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ) (صّ:29)
" Ini adalah sebuah kitab yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran" (QS. 38:29)
Makna berbarakah dalam bahasa arab adalah banyak kebaikannya dan terus menerus.
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullahu:
وهو أحق أن يسمى مباركا من كل شيء لكثرة خيره ومنافعه ووجوه البركة فيه
"Dan Al-Quran lebih berhak untuk dinamakan "mubarak" dari segala sesuatu karena banyaknya kebaikannya, manfaatnya, dan segi-segi barakah di dalamnya" (Jala'ul Afham hal: 432, Dar Ibnul Jauzy )
Dan berkata Al-Alusy:
" "كثير الفائدة والنفع لاشتماله على منافع الدارين
"Banyak faidahnya dan manfaatnya karena Alquran mengandung manfaat-manfaat dunia dan akhirat" (Ruhul Ma'any, tafsir Surat Al-An'am ayat 92).
Para salaf telah berbeda pendapat di dalam masalah bertabarruk (mencari berkah) dengan menggantungkan Al-Quran atau meletakkannya di suatu tempat. (Lihat Ma'arijul Qabul 2/637 dan Taisir Al-'Azizil Hamid hal:130)
Yang rajih –wallahu a'lam- adalah tidak memperbolehkan.
Alasannya adalah sebagai berikut:
1. Hadist-hadist yang mengharamkan jimat adalah umum, dan tidak ada dalil yang mengkhususkan, dan membedakan antara Al-Quran dan yang lainnya. Seperti sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
إن الرقى والتمائم والتولة شرك
"Sesungguhnya ruqyah, jimat, dan tiwalah (pelet) adalah syirik" (HR.Abu Dawud dan Ibnu Majah, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany )
Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:
من علق تميمة فقد أشرك
"Barangsiapa yang menggantungkan jimat maka dia telah berbuat syirik" ( HR. Ahmad, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)
Berbeda dengan ruqyah dimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah membedakan dengan sabda beliau:
لا بأس بالرقى ما لم يكن فيه شرك
"Tidak mengapa meruqyah selama tidak ada kesyirikan di dalamnya" (HR.Muslim).
2. Seandainya amalan ini diperbolehkan niscaya sudah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
3. Dalil-dalil menunjukkan bahwa barakah Al-Quran adalah dengan membacanya bukan dengan menggantungkan. Sebagaimana firman Allah ta'ala:
(وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَداً) (الكهف:27) Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (al-Qur'an). Tidak ada (seorangpun) yang dapat merubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya. (QS. 18:27)
Dan juga firman Allah ta'ala:
(إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ) (فاطر:29)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (QS. 35:29)
Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه
"Bacalah Al-Quran maka sesungguhnya dia datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa'at untuk orang-orang yang membacanya" (HR. Muslim)
Dan juga sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده
"Dan tidaklah sebuah kaum berkumpul di rumah diantara rumah-rumah Allah membaca kitab Allah, dan mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, dan mereka akan diliputi rahmat, dan akan menaungi mereka para malaikat, dan Allah akan menyebut mereka di depan para malaikatNya" (HR. Muslim).
Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة
"Sesungguhnya syetan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al-Baqarah" (HR. Muslim)
Demikianlah cara mengambil berkah dari Al-Quran, yaitu dengan cara mengimaninya, membacanya, merenungi ayat-ayatnya, mengamalkannya, dan berobat dengannya dengan cara yang sudah disyari'atkan. bukan meletakkannya atau menggantungkannya di tempat tertentu dan menggunakannya sebagai jimat.
Berkata Ibnul 'Araby rahimahullahu:
وإنما السنة فيه الذكر دون التعليق
"Dan sesungguhnya yang sunnah adalah dengan dzikir dengan Al-Quran , bukan dengan menggantungnya" ('Aridhatul Ahwadzy 8/222).
4. Dibolehkannya menggantungkan Al-Quran membuka pintu untuk menggantungkan selain Al-Quran dan menjadikan mereka bertawakkal kepada selain Allah (Lihat Fathul Majid, hal: 138)
Berkata Syeikh Hafidz Al-Hakamy: "Tidak diragukan lagi bahwa larangan menggantungkan Al-Quran untuk tabarruk adalah lebih mencegah dari terjerumusnya seseorang kepada keyakinan yang terlarang, khususnya di zaman sekarang. Apabila sebagian besar sahabat dan tabi'in yang hidup di zaman yang mulia dan iman mereka lebih besar dari gunung, mereka saja membencinya maka di zaman kita sekarang-zaman fitnah dan cobaan- hal ini lebih dibenci. Bahkan sekarang mereka sudah sampai derajat murni keharaman untuk tujuan yang haram, diantaranya mereka menulis ayat, atau surat, atau basmalah, atau yang semacamnya kemudian meletakkan mantra-mantra syetan di bawahnya, yang tidak mengetahuinya kecuali orang yang membaca kitab-kitab mereka (Ma'arijul Qabul 1/638-639).
Dan ini adalah pendapat Abdullah bin Mas'ud (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 8/15 no:23811), dan Ibrahim An-Nakha'I (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 8/15 no: 23814), Imam Ahmad di dalam sebuah riwayat, dan ini yang dipilih oleh kebanyakan Hanabilah. (Lihat Ath-Thibb An-Nabawy, Adz-Dzahaby hal:281, dan Taisirul 'Azizil Hamid, Syeikh Sulaiman bin Abdullah, hal:130)
Dengan demikian tidak boleh bagi seseorang meletakkan Al-Quran atau sebagian ayat-ayat Al-Quran di suatu tempat dengan tujuan agar tempat tersebut menjadi berbarakah, mendapatkan kebaikan atau keberuntungan, atau dijauhkan dari bencana dan malapetaka, seperti menaruhnya di tempat usaha, mobil, pesawat.dll. Apabila meyakini itu sebagai sebab maka termasuk syirik kecil.
Wallahu a'lam.
Read More......

Kamis, 16 Juli 2009

Lafadz, Cara, dan Waktu Bershalawat

Tanya: Assalamu'alaikum Ustad, Semoga Allah swt. memberkahimu.
Bagaimana lafazh, cara dan waktu bershalawat yang sesuai dengan sunnah, dikarenakan banyak sekali shalawat-shalawat diucapkan sampai-sampai dinyanyikan dengan irama? Jazakallahu Khair. (Abu Hanun)


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Wa fiikum barakallahu.
Kita diperintah untuk memperbanyak shalawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah:
(إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً) (الأحزاب:56)
"Sesungguhnya Allah dan malaikatnya bershalawat kepada nabi, wahai orang-orang yang beriman bershalawatlah kalian kepadanya dan juga ucapkanlah salam"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
((أولَى الناسِ بِيْ يوم القيامة أكثرُهم عليَّ صلاةً))
"Orang yang paling dekat dariku pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku" (HR. At-Tirmidzy, dan dihasankan Syeikh Al-Albany)
Maka hendaknya seorang muslim memperbanyak shalawat atas beliau. Dan disana ada waktu khusus yang disyariatkan bershalawat seperti ketika hari jum'at, ketika disebutkan nama beliau, ketika tasyahhud akhir, setelah takbir kedua pada shalat jenazah, ketika mau berdoa, ketika masuk masjid, ketika keluar masjid, setelah menjawab muadzdzin, dll.
Sebaik-baik lafadz shalawat adalah shalawat Ibrahimiyyah (di dalamnya ada penyebutan nabi Ibrahim).
Dari Ibnu Abi Laila beliau berkata: Aku bertemu dengan Ka'b bin 'Ujrah kemudian beliau berkata: Maukah kamu aku berikan hadiah yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam? Aku berkata: Iya, hadiahkanlah itu kepadaku. Maka beliau berkata:
سألْنا رسول الله فقلنا: يا رسول الله كيف الصلاةُ عليكم أهلَ البيت، فإن الله قد عَلَّمنا كيف نسلِّم؟ قال: قولوا اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
"Kami bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada antum, wahai ahlul bait? Karena Allah sudah mengajari kami bagaimana cara mengucapkan salam? Maka beliau bersabda: Katakanlah:
اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد
"Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas" (Muttafaqun 'alaihi).
Berkata As-Sakhawy (wafat tahun 902 H ):
استدل بتعليمه صلى الله عليه وسلم لأصحابه كيفية الصلاة عليه بعد سؤالهم عنها أنها أفضل الكيفيات؛ لأنه لا يختار لنفسه إلا الأشرف والأفضل
"Pengajaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabatnya tentang cara bershalawat kepada beliau setelah ditanya menunjukkan bahwa shalawat tersebut adalah shalawat yang palaing afdhal caranya, karena beliau tidak memilih untuk diri beliau kecuali yang paling mulia dan yang paling afdhal" (Al-Qaulul Badi' fish shalah 'alal Habib Asy-Syafi', As-Sakhawy hal: 47)
Ibnul Qayyim juga berkata:
وأكمل ما يصلى عليه به ويصل إليه هي الصلاة الإبراهيمية كما علمه أمته أن يصلوا عليه فلا صلاة عليه أكمل منها وإن تحذلق المتحذلقون
"Dan shalawat yang paling sempurna, yang samapai kepada beliau adalah shalawat Ibrahimiyyah, sebagaimana yang beliau ajarkan kepada ummatnya, maka tidak ada shalawat yang lebih sempurna darinya, meski sebagian orang merasa lebih pintar (untuk membuat lafadz shalawat) (Zadul Ma'ad 2/356).
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin:
وخير صيغة يقولها الإنسان في الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم ما اختاره النبي صلى الله عليه وسلم للصلاة عليه بها
"Dan sebaik-baik lafadz bershalawat kepada nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah apa yang beliau pilih" (Majmu' Fatawa wa rasail Syeikh Muhammad Al-Utsaimin 13/230).

Meskipun demikian boleh mengucapkan shalawat dengan lafadz yang lain jika lafadznya fasih, seperti mengucapkan: صلى الله عليه وسلم, atau الصلاة والسلام على رسول الله
Dan hendaknya menjauhi lafadz-lafadz terlarang seperti ghuluw (berlebih-lebihan dalam memuji beliau) sebagaimana ini ada pada kebanyakan shalawat-shalawat buatan manusia.
Demikian pula menjauhi cara bershalawat yang tidak ada dalilnya seperti bershalawat dengan dinyanyikan, karena ini tidak pernah dicontohkan oleh para pendahulu kita dari kalangan sahabat, tabi'in, dan tabi'it tabi'in.
Wallahu a'lam.
Read More......

Senin, 13 Juli 2009

Penjelasan Hadist: "Akan keluar dari arah timur..."

Tanya: Ustadz, ana mau bertanya mengenai hadist, "Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur'an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul) " (HR Bukhori)
Sebagian orang mengatakan bahwa yang dimaksud dalam hadist tersebut adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah dan para pengikutnya. Mereka berkata bahwa pengikut beliau diperintahkan untuk digundul rambutnya dan itu belum pernah terjadi pada masa sebelum beliau. Mohon penjelasannya.
Atas perhatian ustadz, kami ucapkan jazakallahu khairan. (Taufiq)



Jawab:
Para ulama menjelaskan bahwa hadist ini bercerita tentang akan munculnya kelompok khawarij, oleh karena Imam Abu Dawud (wafat tahun 275 H) memasukkan hadist ini di dalam : bab Fii Qitalil Khawarij (bab tentang memerangi khawarij).
Orang-orang khawarij telah menjadikan syiar mereka tahliq (gundul).
Berkata Ibnu Hajar (wafat tahun 852 H):
...أَنَّ الْخَوَارِج سِيمَاهُمْ التَّحْلِيق ، وَكَانَ السَّلَف يُوَفِّرُونَ شُعُورهمْ لَا يَحْلِقُونَهَا ، وَكَانَتْ طَرِيقَة الْخَوَارِج حَلْق جَمِيع رُءُوسِهِمْ .
"Sesungguhnya orang-orang khawarij ciri khas mereka adalah gundul, dan dahulu para salaf membiarkan rambut mereka dan tidak menggundulnya, dan cara orang khawarij adalah mencukur habis kepalanya" (Fathul Bary 8/68-69).
Demikian pula arah timur dalam hadist adalah arah timur Madinah yaitu negeri Iraq, tempat keluarnya khawarij. Sedangkan daerah Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah timur Mekah bukan timur Madinah.
Berkata Al-Khaththaby (wafat tahun 388 H):
ومن كان بالمدينة كان نجده بادية العراق ونواحيها، فهي مشرق أهل المدينة، وأصل نجد ما ارتفع من الأرض، وهو خلاف الغور، فإنه ما انخفض منها
"Dan barangsiapa yang ada di Madinah maka nejdnya adalah pegunungan Iraq dan sekitarnya, maka inilah arah timur penduduk Madinah, dan asal kalimat "nejd" adalah bagian tanah yang meninggi (dataran tinggi), lawan kata dari Al-Ghaur yaitu bagian tanah yang merendah ( dataran rendah). (Dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/47)
Kemudian Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya tidaklah memiliki sifat yang tercantum dalam hadist "membaca Al-Quran tidak melewati kerongkongan" seperti orang-orang khawarij yang mereka dahulu dikenal orang-orang yang sangat banyak membaca Al-Quran akan tetapi jauh dari pemahaman yang benar sehingga mengkafirkan sebagian generasi terbaik ummat , para sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan memerangi mereka. Justru Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dikenal telah menampakkan kembali tauhid yang didakwahkan oleh para rasul, dan mengajak manusia meninggalkan kesyirikan, beliau mengajak manusia beramal dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan meninggalkan bid'ah, semuanya berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman para sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in. Dan bukanlah mereka orang yang mudah dalam mengkafirkan manusia, bahkan termasuk orang yang sangat ekstra hati-hati dalam masalah pengkafiran, sebagaimana tercantum dalam karangan-karangan mereka.
Berkata Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab:
ولا أكفر أحدا من المسلمين بذنب ولا أخرجه عن دائرة الإسلام
"Dan aku tidak mengkafirkan orang islam hanya karena melakukan dosa, dan aku tidak mengeluarkannya dari islam" (Majmu' Muallafat Asy-Syeikh 5/11).
Dan sebuah kedustaan atas nama beliau kalau beliau memerintahkan pengikutnya untuk senantiasa menggundul kepala dan menjadikannya ukuran islam tidaknya seseorang. Yang gundul diantara mereka ada beberapa kemungkinan, diantaranya karena baru masuk islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada seorang sahabat yang baru masuk islam
: ألق عنك شعر الكفر
(Tinggalkanlah rambut kekufuran). (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).
Atau karena itu kebiasaan sebagian penduduk di daerah beliau, karena menurut pendapat yang kuat diperbolehkan kita menggundul kepala dan yang demikian tidak dibenci, sebagaimana dalam hadist:
عن ابن عمر : أن النبي صلى الله عليه و سلم رأى صبيا قد حلق بعض شعره وترك بعضه فنهاهم عن ذلك فقال " احلقوه كله أو اتركوه كله " .
"Dari Ibnu Umar bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat anak kecil telah dicukur sebagian rambutnya dan dibiarkan sebagian yang lain, maka beliau melarangnya seraya bersabda: Cukur semuanya atau biarkan semuanya" (HR. Abu Dawud, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).
Berkata ِAl-Munawy:
وقوله احلقوه كله يدل على جواز الحلق وهو مذهب الجمهور
"Sabda beliau "cukurlah semuanya" menunjukkan bolehnya menggundul, dan ini adalah madzhab mayoritas ulama" (Faidhul Qadir 1/201, Darul Ma'rifah 1391 H)
Tentunya selama tidak meyakini keutamaan tertentu padanya seperti orang-orang khawarij terdahulu dan sebagian shufi, kalau meyakini maka menjadi dosa karena ini termasuk bid'ah di dalam agama.
Wallahu a'lam.
Read More......

Senin, 06 Juli 2009

Khasiat Al-Asmaul Husna

Tanya: Assalamualaikum ustadz, saya selalu mengunjungi blog antum dan banyak mendapatkan ilmu dari ustadz,jazakalloh khoiron katsiro.saya mo tanya disalah satu dinding facebook,saya membaca bahwa kalo membaca As Salaam = Yg memberi keselamatan.
Khasiatnya : klo kita membaca "YAA SALAAM" setiap hari sebanyak 136 kali, maka insya allah penyakit yg kita derita dalam tubuh kita dapat sembuh.
Al Maliku = Yg Merajai.
Khasiatnya, apabila kita membaca "YAA MALIIK" setiap pagi atau setelah matahari tergelincir sebanyak 121 kali, maka insya allah pada satu ketika kita akan menjadi kaya dengan izin allah Ta'ala. Namun kitapun harus tetap rajin bekerja dan berusaha mencari rezeki, tidak berarti hanya berdo'a saja tanpa usaha.
apakah ada dalilnya mengamalkan asmaul husna?.bolehkah saya mengutip penjelasan ustadz di facebook saya untuk menyampaikanya ke teman saya? (Abdullah)


Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Seorang muslim tidak boleh menetapkan sesuatu amalan dan fadhilah (keutamaan) kecuali dengan dalil yang shahih dan pemahaman yang benar.
Dan pendapat yang mengatakan bahwa setiap nama dari Asmaul Husna memiliki keutamaan khusus adalah pendapat yang tidak ada dalilnya dan termasuk mengada-ada di dalam agama.Demikian pula mengulang-ulang sebuah nama diantara Asmaul Husna juga tidak ada dalilnya.
Berkata Syeikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidhahullahu berkata ketika menyebutkan beberapa kesalahan yang terjadi dalam pengamalan asmaul husna:
فمن ذلكم نشرة توزع في الآونة الأخيرة درجت بين العوام والجهال، يزعم كاتبها أن أسماء الله الحسنى لكل اسم منها خاصية شفائية لمرض معين، فلأمراض العين اسم، ولأمراض الأذن اسم، ولأمراض العظام اسم، ولأمراض الرأس اسم، وهكذا، وحدد لتلك الأمراض أعدادا معينة من تلك الأسماء.
وهذا من الباطل الذي ما أنزل الله به من سلطان، ولا قامت عليه حجة ولا برهان، بل ليس في الأذكار المشروعة والرقى المأثورة إلا ما هو جملة تامة، وليس فيها تكرار لاسم بهذه الطريفة المزعومة في تلك النشرة، وقد ارتكب بهذا العمل جنايتين:
الأولى: إدخال الناس في هذا العمل المحدث غير المشروع
الثانية: شغل الناس عن الأذكار المأثورة والرقى المشروعة في الكتاب والسنة
"Diantara (kesalahan-kesalahan tersebut) selebaran yang dibagikan akhir-akhir ini diantara orang awam dan orang-orang yang tidak tahu, penulisnya menyangka bahwa setiap nama diantara nama-nama Allah yang husna keutamaan penyembuhan untuk penyakit tertentu, ada nama khusus untuk penyakit-penyakit mata, ada nama khusus untuk penyakit-penyakit telinga, ada nama khusus untuk penyakit-penyakit tulang, ada nama khusus untuk penyakit-penyakit kepala, dan seterusnya, dengan menentukan untuk setiap penyakit beberapa nama-nama Allah.
Ini semua adalah kebathilan yang Allah tidak menurunkan dalil tentangnya, tidak berdasarkan hujjah dan keterangan yang jelas, bahkan yang ada di dalam dzikir-dzikir yang disyariatkan dan ruqyah-ruqyah yang ada dalilnya adalah kalimat yang sempurna, dan tidak ada mengulang-ulang nama, sebagaimana dalam selebaran tersebut.
Penulis tersebut dengan amalan ini telah melanggar 2 perkara:
Pertama : Memasukkan manusia di dalam amalan baru yang tidak disyariatkan ini
Kedua : Memalingkan manusia dari dzikir-dzikir dan ruqyah-ruqyah yang disyari'atkan di dalam Al-Quran dan As-Sunnah. (Fiqh Al-Asmaul Husna hal: 66-67).
Cara yang benar adalah berdoa kepada Allah dengan Asmaul Husna dan berdoa dengan nama Allah yang sesuai dengan keadaannya. Allah ta'ala berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ) (الأعراف:180) )
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 7:180)
Misalnya:
Ya Syafi, isyfini (Wahai Yang Maha Penyembuh, sembuhkanlah aku)
Ya Rahman, irhamni (Wahai Yang Maha Penyayang, sayangilah aku)
Ya Razzaq, urzuqni (Wahai Yang Maha Pemberi rezeki, berilah aku rezeki )

Kemudian hendaknya mengambil sebab untuk mewujudkan apa yang dia minta seperti bekerja, berobat dll, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah semata.
Wallahu a'lam.
Read More......

Kamis, 02 Juli 2009

Hikmah Musibah Para Nabi, Penebus Dosa?

Tanya: Bismillaah. Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.
Ustadz, ana ada sebuah pertanyaan.
Dalam QS. Asy Syuraa: 30, Allah Ta'ala berfirman:"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."
Dan dalam sebuah hadits disebutkan (yang intinya) bahwa para Nabi adalah orang yang mendapatkan ujian yang paling berat.
Pertanyaannya:
Bagaimana cara memahami keduanya. Jika musibah disebabkan oleh dosa dan maksiat, maka mengapa para Nabi adalah orang yang ujiannya paling berat, sedangkan mereka ma'shum?
Jazakallaahu khayr atas jawabannya. (Abdullah)


Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh.
Para nabi 'alaihimussalam ma'shum (terjaga) dari dosa besar, adapun dosa kecil maka kadang terjadi pada sebagian mereka, namun dosa kecil tersebut tidak berhubungan dengan penyampaian wahyu, kemudian dengan segera mereka bertaubat dan beristighfar kepada Allah, sebagaimana kisah nabi Adam ketika memakan buah terlarang, nabi Musa ketika memukul orang Mesir, nabi Yunus ketika pergi dari kaumnya, dll. Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.
Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu:
فإن القول بأن الانبياء معصومون عن الكبائر دون الصغائر هو قول أكثر علماء الاسلام وجميع الطوائف حتى إنه قول اكثر أهل الكلام كما ذكر ابو الحسن الآمدى أن هذا قول اكثر الاشعرية وهو ايضا قول أكثر أهل التفسير والحديث والفقهاء بل هو لم ينقل عن السلف والائمة والصحابة والتابعين وتابعيهم الا ما يواقف هذا القول
"Maka sesungguhnya pendapat bahwa para nabi ma'shum dari dosa besar tanpa dosa kecil adalah pendapat sebagian besar ulama islam dan semua kelompok, sampai sebagian besar ahli kalam, Abul hasan Al-Amidi menyebutkan bahwa ini adalah pendapat sebagian besar Asy-'Ariyyah, dan ini pendapat sebagian besar ahli tafsir, ahli hadist, dan ahli fiqh, bahkan tidak dinukil dari para salaf , para imam, para sahabat, para tabi'in, dan para tabi'ut tabi'in kecuali ucapan yang sesuai dengan pendapat ini " (Majmu' Al-Fatawa 4/319)
Dan perlu diketahui bahwa jumhur ulama berpendapat bahwa hikmah dari musibah yang menimpa orang yang beriman selain menggugurkan dosa adalah mengangkat derajatnya, sebagaimana disebutkan oleh An-Nawawy. (Lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim 16/128)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ما يصيب المؤمن من شوكة فما فوقها إلا رفعه الله بها درجة أو حط عنه خطيئة
"Tidaklah menimpa seorang mukmin sebuah musibah, duri atau musibah yang lebih besar dari itu kecuali Allah akan mengangkat derajatnya atau menggugurkan dosanya" (HR.Al-Bukhary dan Muslim, dan lafadznya milik Imam Muslim)
Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat:
(وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ) (آل عمران:141) beliau berkata:
يكفر عنهم من ذنوبهم، إن كان لهم ذنوب وإلا رُفعَ لهم في درجاتهم بحسب ما أصيبوا به
"Yaitu Allah menggugurkan sebagian dosa-dosa mereka kalau memiliki dosa, dan kalau tidak (memiliki dosa) maka diangkat derajatnya sesuai dengan musibah yang menimpanya" (Tafsir Al-Quranil 'Adhzim 2/127)
Dengan demikian insya Allah kita bisa memahami hadist Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu yang antum isyaratkan, ketika beliau bertanya: Wahai Rasulullah, Siapakah manusia yang paling keras ujiannya? Maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه وإن كان في دينه رقة ابتلى على حسب دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشى على الأرض ما عليه خطيئة
"(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa" (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih)
Yaitu bahwasanya musibah yang menimpa mereka adalah untuk mengangkat derajat mereka, menunjukkan kepada ummat tentang kesabaran mereka, dan menjadi teladan bagi manusia dalam menghadapi ujian.
Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu:
الله عز وجل يبتلي عباده بالسراء والضراء وبالشدة والرخاء ، وقد يبتليهم بها لرفع درجاتهم وإعلاء ذكرهم ومضاعفة حسناتهم كما يفعل بالأنبياء والرسل عليهم الصلاة والسلام والصلحاء من عباد الله
"Allah 'azza wa jalla menguji hamba-hambaNya dengan kesenangan dan kesusahan, dan terkadang Allah menguji mereka untuk meninggikan derajat mereka, mengangkat penyebutan mereka, dan melipatgandakan pahala mereka sebagaimana apa yang Allah lakukan terhadap para nabi dan rasul 'alaihimushshalatu wassalam, dan juga hamba-hamba Allah yang shalih" (Majmu Fatawa wa Rasail Syeikh bin Baz 4/370)
Wallahu a'lam.
Read More......

Rabu, 01 Juli 2009

Berdoa Dan Berdzikir Secara Berjamaah

Tanya: Assalamu'alaikum ustadz semoga Allah memberkahimu...
Sekarang banyak sekali kaum muslimin berdo'a dan dzikir bersama baik itu untuk keluarganya, kaum muslimin bahkan untuk pemimpin, Adakah secara sunnah yang benar amalan-amalan tersebut, mohon dalil-dalilnya? Jazakallah. (Abu Hanun)


Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barakatuhu.
Berdoa bersama kalau yang dimaksud adalah satu orang berdoa sedangkan yang lain mengamini, maka ini ada 2 keadaan:
Pertama: Hal tersebut dilakukan pada amalan yang memang disyariatkan doa bersama, maka berdoa bersama dalam keadaan seperti ini disyariatkan seperti di dalam shalat Al-Istisqa' (minta hujan), dan Qunut
Kedua : Hal tersebut dilakukan pada amalan yang tidak ada dalilnya dilakukan doa bersama di dalamnya, seperti berdoa bersama setelah shalat fardhu, setelah majelis ilmu, setelah membaca Al-Quran dll, maka ini boleh jika dilakukan kadang-kadang dan tanpa kesengajaan, namun kalau dilakukan terus-menerus maka menjadi bid'ah.
Imam Ahmad bin Hambal pernah ditanya:
يكره أن يجتمع القوم يدعون الله سبحانه وتعالى ويرفعون أيديهم؟
"Apakah diperbolehkan sekelompok orang berkumpul, berdoa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, dengan mengangkat tangan?"
Maka beliau mengatakan:
ما أكرهه للإخوان إذا لم يجتمعوا على عمد، إلا أن يكثروا.
"Aku tidak melarangnya jika mereka tidak berkumpul dengan sengaja, kecuali kalau terlalu sering" (Diriwayatkan oleh Al-Marwazy di dalam Masail Imam Ahmad bin Hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879)
Berkata Al-Marwazy:
وإنما معنى أن لا يكثروا: يقول: أن لا يتخذونها عادة حتى يعرفوا به
"Dan makna "jangan terlalu sering" adalah jangan menjadikannya sebagai kebiasaan, sehingga dikenal oleh manusia dengan amalan tersebut" (Masail Imam Ahmad bin hambal wa Ishaq bin Rahuyah 9/4879).
Adapun dzikir bersama, dipimpin oleh seseorang kemudian yang lain mengikuti secara bersama-sama maka ini termasuk bid'ah, tidak ada dalilnya dan tidak diamalkan para salaf. Bahkan mereka mengingkari dzikir dengan cara seperti ini, sebagaimana dalam kisah Abdullah bin Mas'ud ketika beliau mendatangi sekelompok orang di masjid yang sedang berdzikir secara berjamaah, maka beliau mengatakan:
مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ ؟ ... وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتِكُمْ ، هَؤُلاَءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صلى الله عليه وسلم مُتَوَافِرُونَ ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ ، وَالَّذِي نَفْسِي فِي يَدِهِ ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ ؟! أَوْ مُفْتَتِحُوا بَابَ ضَلاَلَةٍ ؟
"Apa yang kalian lakukan?!...Celaka kalian wahai ummat Muhammad, betapa cepatnya kebinasaan kalian, para sahabat nabi kalian masih banyak, dan ini pakaian beliau juga belum rusak, perkakas beliau juga belum pecah, demi Dzat yang jiwaku ada di tangannya, kalian ini berada dia atas agama yang lebih baik dari agama Muhammad, atau kalian sedang membuka pintu kesesatan? (Diriwayatkan oleh Ad-Darimy di dalam Sunannya no. 2o4, dan dishahihkan sanadnya oleh Syeikh Al-Al-Albany di dalam Ash-Shahihah 5/12)
Berkata Asy-Syathiby rahimahullahu:
فإذا ندب الشرع مثلا إلى ذكر الله فالتزم قوم الاجتماع عليه على لسان واحد وبصوت أو في وقت معلوم مخصوص عن سائر الأوقات ـ لم يكن في ندب الشرع ما يدل على هذا التخصيص الملتزم بل فيه ما يدل على خلافه لأن التزام الأمور غير اللازمة شرعا شأنها أن تفهم التشريع وخصوصا مع من يقتدى به في مجامع الناس كالمساجد
"Jika syariat telah menganjurkan untuk dzikrullah misalnya, kemudian sekelompok orang membiasakan diri mereka berkumpul untuknya (dzikrullah) dengan satu lisan dan satu suara,atau pada waktu tertentu yang khusus maka tidak ada di dalam anjuran syariat yang menunjukkan pengkhususan ini,justru di dalamnya ada hal yang menyelisihinya, karena membiasakan perkara yang tidak lazim secara syariat akan dipahami bahwa itu adalah syariat, khususnya kalau dihadiri oleh orang yang dijadikan teladan di tempat-tempat berkumpulnya manusia seperti masjid-masjid". (Al-I'tisham 2/190)
Wallahu a'lam.
Read More......

Rabu, 24 Juni 2009

Solusi Perbaikan Umat

Tanya : Kenapa praktek islam di Indonesia berbeda dengan Saudi ? Banyak bid'ah ( peringatan maulid, nyanyi-nyanyi di masjid dll ) , bahkan ada yang shalat setahun cuma 2 kali , bagaimana solusinya ? ( 0565188242 )


Jawab : Solusinya tidak ada cara lain kecuali kita mau kembali berpegang teguh kepada ajaran islam yang murni dan bersih, agama islam yang berdasarkan Al-Quran dan Al-Hadist dengan pemahaman generasi terbaik umat dari kalangan para sahabat, para tabi'in, dan para tabi'it tabi'in, di dalam semua segi kehidupan kita , baik aqidah, fiqh, mu'amalah, akhlaq dll. Tentunya hal ini harus dimulai dengan menuntut ilmu syar'I, baru kemudian menyebarkan ilmu ini dengan hikmah ( bijaksana ) dimulai dari keluarga sendiri, teman terdekat, tetangga, kemudian masyarakat umum. Dengan demikian, kita berharap Allah akan memperbaiki keadaan kita dan keadaan kaum muslimin semuanya. Allah berfirman :
(إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ ) (الرعد من : 11 )
Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. 13:11)
Wallahu a'lam.
Read More......

Minggu, 21 Juni 2009

Tentang Penamaan Jembatan Ash-Shirathul Mustaqim

Tanya: Ustadz apa benar ada dalil yang menamakan "jembatan shirotol mustaqim", dan bahwasannya jembatan itu bagaikan rambut dibelah tujuh?
(Waldi, Pontianak)

Jawab:
Shirath adalah jembatan yang terbentang di atas neraka menuju ke surga, semua manusia akan melewatinya, sesuai dengan amalan mereka, ada yang terjatuh ke neraka, ada yang melewatinya dengan cepat dan ada yang melewatinya dengan lambat.
Datang penamaan dengan Ash-Shirath dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu:
فيُضربُ الصِّراطُ بين ظهرانَي جهنَّم....
"Maka dibuatlah Ash-Shirath di atas jahannam…." (HR.Al-Bukhary dan Muslim) Dan dalam hadist yang lain:
وتُرسَلُ الأمانةُ والرَّحم، فتقومان جنبَتَي الصِّراط يميناً وشمالاً
"Dan diutus amanah dan kekerabatan, maka keduanya berdiri di kedua tepi Ash-Shirath…." (HR. Muslim)
Diriwayatkan bahwa Ash-Shirath ini lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang, sebagaimana ucapan Abu Said Al-Khudry radhiyallahu 'anhu:
بلغني أن الجسر أدق من الشعرة وأحد من السيف
"Sampai kepadaku bahwa jembatan ini (ash-shirath) lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang" (Diriwayatkan oleh Imam Muslim 1/167).
Adapun penamaan Ash-Shirath dengan jembatan shirathal mustaqim maka tambahan "mustaqim" saya tidak mengetahui asalnya, demikian pula penyifatan Ash-Shirath bahwasanya dia seperti rambut dibelah tujuh, saya juga tidak mengetahui dalilnya.
Walhasil hendaknya seorang muslim mencukupkan diri dengan keterangan yang sudah ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah baik nama maupun sifat dari Ash-Shirath.
Wallahu a'lam.
Read More......

Kamis, 18 Juni 2009

Makna Man Rabbuka Menurut Ahlussunnah

Tanya: Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh. Ustadz, alhamdulillah, saya mendapatkan hidayah salafiyah setelah saya tinggal di AS. Mohon kesediaan Ustadz menjawab pertanyaan saya, yang sering menjadi bantahan atas konsep tauhid rububiyah ahlussunnah waljamaah.
"Bila kaum kafir dianggap mengimani tauhid rububiyah, mengapa pertanyaan kubur diantaranya adalah man robbuka ? "
Atas jawaban ustadz, saya mengucapkan terima kasih.
Saya membuat blog sbg sarana kajian untuk anak dan istri saya di Indonesia. mohon saran dan kritik.
http://back2sunnah.wordpress.com/
http://annasihah.wordpress.com/
Jazakallahu khoiro. Wassalamu'alaikum warahmatullah. Hormat saya, M. Arif Hakim

Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah yang telah mengumpulkan kita di atas islam dan sunnah.
Diantara konsep Ahlussunnah wal jamaah dalam masalah tauhid rububiyyah (pengesaan Allah dalam penciptaan, pemberian rezeki, dan pengaturan alam semesta) bahwasanya tauhid ini tidak cukup untuk memasukkan seseorang ke dalam agama islam, oleh karena orang musyrik Qurays meski mereka mengakui rububiyyah Allah akan tetapi mereka diperangi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. , sebagaimana firman Allah:
)قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ) (يونس:31)
Artinya : Katakanlah:"Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan" Maka mereka menjawab:"Allah". Maka katakanlah:"Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" (QS. 10:31)
Dan Allah juga berfirman:
(وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ) (العنكبوت:61)
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:"Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab:"Allah", maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (QS. 29:61)
Adapun pertanyaan 2 malaikat di alam kubur (man rabbuka/siapa rabbmu?) maka ini tidak menunjukkan bahwasanya mereka (orang-orang musyrik) tidak mengakui rububiyyah Allah.
Para ulama menjelaskan bahwa kalimat rabb disini maksudnya adalah ilah, karena sangat eratnya hubungan antara rububiyyah dengan uluhiyyah, dimana pengakuan terhadap rububiyyah sesuatu mengharuskan dia untuk menyembah sesuatu tersebut, dan sebaliknya orang yang menyembah sesuatu menunjukkan bahwa dia meyakini rububiyyahnya.
Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa Rabb dan Ilah di dalam bahasa arab termasuk 2 kata yang jika bersatu maka berpisah, dan jika berpisah maka bersatu, maksudnya jika berada dalam satu tempat maka memiliki makna yang berlainan, dan jika tidak berada dalam satu tempat maka dia memiliki makna yang satu. (Lihat At-Tamhid Syarh Kitabit Tauhid, Syeikh Shalih Alu Syeikh hal: 415-416)
Contoh yang lain:
Pertama: Faqir dan Miskin, menurut sebagian ulama, faqir adalah orang yang tidak memiliki penghasilan sama sekali, dan miskin adalah orang yang memiliki penghasilan tapi tidak mencukupi kebutuhan pokoknya.
Kalau disebutkan "faqir" dalam sebuah ayat atau hadist: saja maka masuk di dalamnya "miskin", sebagaimana dalam hadist:
فإن هم أطاعوه لذلك فأعلمهم أن الله افترض عليهم صدقة في أموالهم تؤخذ من أغنيائهم وترد على فقرائهم
"Apabila mereka menaatimu untuk shalat maka beritahulah bahwasanya Allah mewajibkan mereka untuk bershadaqah dari harta mereka (zakat), diambil dari orang kaya mereka dan diberikan kepada fuqara mereka. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Dan kalau disebutkan miskin saja maka masuk di dalamnya faqir.
Akan tetapi kalau disebutkan keduanya sekaligus maka maknanya berlainan, sebagaimana dalam firman Allah:
)إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ )(التوبة: من الآية60(
"Sesungguhnya shadaqah (zakat) diperuntukkan bagi orang-orang fakir dan orang-orang miskin…."
Kedua: Islam dan Iman, Islam berkaitan dengan perkara-perkara yang dhahir (seperti syahadat, shalat, zakat, puasa, haji )sedangkan iman berkaitan dengan perkara -perkara yang bathin (beriman kepada Allah, malaikat, para rasul dll)
Kalau disebutkan dalam ayat atau hadist islam saja maka masuk di dalamnya iman, dan kalau disebutkan iman saja maka masuk di dalamnya islam. Akan tetapi kalau disebutkan keduanya sekaligus maka maknanya berlainan.
Demikian pula kalimat rabb dan ilah, rabb adalah yang mencipta, memelihara, memberi rezeki , sedangkan ilah adalah yang disembah.
Kalau disebutkan dalam ayat atau hadist rabb saja maka masuk di dalamnya makna ilah, sebagaimana dalam pertanyaan: man rabbuka? Jadi maknanya: Siapakah rabbmu dan sesembahanmu.
Diantaranya dalilnya, hadist 'Ady bin Hatim radhiyallahu 'anhu beliau berkata:
أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- وَفِى عُنُقِى صَلِيبٌ مِنْ ذَهَبٍ قَالَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ (اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ) قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَمْ يَكُونُوا يَعْبُدُونَهُمْ. قَالَ :« أَجَلْ وَلَكِنْ يُحِلُّونَ لَهُمْ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيَسْتَحِلُّونَهُ وَيُحَرِّمُونَ عَلَيْهِمْ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَيُحَرِّمُونَهُ فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ لَهُمْ
"Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedangkan salib emas tergantung di leherku, maka aku mendengar beliau  membaca ayat:
)اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِنْ دُونِ اللَّهِ)(التوبة: من الآية31(
"Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai rabb-rabb selain Allah"
Maka aku berkata: Wahai Rasulullah, mereka (orang-orang nashara) tidak menyembah mereka! Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Iya,akan tetapi para alim dan rahib tersebut menghalalkan bagi mereka (para pengikut) apa yang Allah haramkan kemudian mereka menghalalkan dan mengharamkan apa yang Allah halalkan kemudian mereka juga ikut mengharamkan, maka inilah ibadah mereka " (HR. At-Tirmidzy 5/278, Al-Baihaqy 10/116 dan Ath-Thabrany di Al-Mu'jamul Kabir 17/92 , dan dihasankan Syeikh Al-Albany)
Dalam hadist ini Ady bin Hatim memahami bahwa menjadikan para alim dan rahib sebagai rabb maksudnya adalah menjadikan mereka sebagai ilah /sesembahan mereka.
Wallahu a'lam.
Read More......

Jumat, 12 Juni 2009

Tentang Hipnoterapi (Pengobatan Dengan Hipnotis)

Hari Rabu tanggal 3 Juni 2009, disela-sela forum tanya jawab via YM, ada sebuah pertanyaan dari salah seorang peserta berkaitan dengan pertanyaan no:7 (Mengobati Sihir Dengan Sihir, Bolehkah?), pertanyaannya: Apakah hipnotis yang digunakan untuk pengobatan (hipnoterapi) termasuk sihir?

Jawab:
Hipnotis (التنويم المغناطيسي أو التنويم الإيحائي) adalah termasuk jenis sihir, dimana penghipnotis meminta bantuan jin dalam melaksanakan aksinya. Dan jin akan membantu setelah penghipnotis tersebut mau berbuat syirik atau kekufuran.
Saya pernah membaca sebuah kisah dari seorang muslim yang belajar di luar negeri, dimana di Universitas sering diadakan acara hipnotis. Singkat cerita muslim tersebut ingin meyakinkan bahwa hipnotis ini dari syetan maka dia mencoba untuk menjadi relawan untuk dihipnotis. Ketika detik-detik mau dihipnotis dia terus menerus membaca ayat kursi sehingga akhirnya penghipnotis ini pun gagal dalam menghipnotis dia.
Komite Tetap Untuk Fatwa Saudi Arabia telah mengeluarkan sebuah fatwa berkaitan dengan hal ini, saya nukil berikut ini nash pertanyaan dan jawabannya:
Pertanyaan:
وما حكم الإسلام في التنويم المغناطيسي وبه تقوى قدرة المنوم على الإيحاء بالمنوم وبالتالي السيطرة عليه وجعله يترك محرما أو يشفى من مرض عصبي أو يقوم بالعمل الذي يطلب المنوم ؟
"ِِApakah hukum hipnotis di dalam islam, dimana dengan cara ini orang yang menghipnotis bisa lebih mampu untuk menguasai orang yang dihipnotis, sehingga membuat dia meninggalkan yang haram atau mengobati penyakit syaraf atau melakukan perbuatan yang diminta oleh penghipnotis? (Fatawa Al-Lajnah Ad-daimah 1/345)

Jawabannya:
Berkata Al-Lajnah Ad-Daimah:
التنويم المغناطيسي ضرب من ضروب الكهانة باستخدام جني حتى يسلطه المنوم على المنوم فيتكلم بلسانه ويكسبه قوة على بعض الأعمال بالسيطرة عليه إن صدق مع المنوم وكان طوعا له مقابل ما يتقرب به المنوم إليه ويجعل ذلك الجني المنوم طوع إرادة المنوم بما يطلبه منه من الأعمال أو الأخبار بمساعدة الجني له إن صدق ذلك الجني مع المنوم وعلى ذلك يكون استغلال التنويم المغناطيسي واتخاذه طريقا أو وسيلة للدلالة على مكانة سرقة أو ضالة أو علاج مريض أو القيام بأي عمل آخر بواسطة المنوم غير جائز بل هو شرك لما تقدم ولأنه التجاء إلى غير الله فيما هو من وراء الأسباب العادية التي جعلها سبحانه إلى المخلوقات وأباحها لهم .
"Hipnotis adalah termasuk jenis tenung (sihir) dengan menggunakan jin dimana penghipnotis menguasakan jin kepada orang yang dihipnotis, kemudian berbicara (jin tersebut) lewat lisannya, dan memberinya kekuatan untuk bisa mengerjakan sebuah pekerjaan tertentu, kalau jin tersebut jujur dan patuh kepada penghipnotis sebagai imbalan dari ibadah yang sudah dikerjakan oleh penghipnotis tersebut kepada jin.
Jin tersebut akan menjadikan orang yang terhipnotis menuruti apa yang diinginkan penghipnotis baik melakukan pekerjaan tertentu atau memberitahu sesuatu dengan bantuan jin, kalau jin tersebut jujur kepada penghipnotis.
Oleh karena itu, menggunakan hipnotis dan menjadikannya cara untuk mengetahui tempat barang yang dicuri atau barang yang hilang, atau penyembuhan penyakit, atau melakukan pekerjaan tertentu dengan perantaraan orang yang dihipnotis adalah tidak boleh, bahkan termasuk syirik sebagaimana telah berlalu, dan juga ini termasuk bergantung kepada selain Allah di dalam perkara-perkara diluar sebab-sebab yang biasa, yang Allah jadikan dan bolehkan untuk makhluknya (Fatawa Al-Lajnah Ad-daimah 1/348)
Dari fatwa di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa hipnoterapi (pengobatan dengan hipnotis) tidak diperbolehkan dan termasuk pengobatan dengan sihir.
Seandainya masih ada keraguan dalam diri kita apakah hipnoterapi itu menggunakan jin atau tidak maka seorang muslim diperintahkan untuk meninggalkan perkara-perkara yang meragukan, apalagi dalam masalah aqidah seperti ini, demi keselamatan agama dan akhirat kita, dan hendaknya kita menggunakan cara-cara yang syar'I yang tidak meragukan dalam pengobatan.
Semoga Allah ta'ala memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua kepada jalan yang lurus dan memberikan kekuatan untuk istiqamah diatasnya. Amin.
Read More......

Kamis, 11 Juni 2009

Sejak Kapan Kita Masuk Islam?

Tanya : Assalamu'alaikum warahmatullahi wa barakatuhu . Pak Ustadz , ada yang bertanya : Sejak kapan kita masuk islam ? Saya katakan : Wallahu a'lamu . Karena kalau dibilang sejak lahir , maka kapan syahadatnya , sedangkan syahadat adalah salah satu dari pondasi / dasar , atau pokok islam , tidak mungkin dikatakan muslim kalau tidak atau belum bersyahadat , iya kan Pak Ustadz ? Mohon penjelasannya , Jazakallahu khairan . ( 0553029483 )


Jawab: Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. Jawaban antum dengan : Wallahu a'lam, sudah pada tempatnya akhi. Allah paling tahu tentang semua itu, dan Allah sudah mengabarkannya tentang masalah ini kepada kita di dalam Al-Quran demikian pula melalui lisan RasulNya shallallahu 'alaihi wa sallam. Keterangannya sebagai berikut:
Setiap janin manusia telah bersaksi bahwa Allah adalah sesembahan mereka satu-satunya sejak berada di dalam sulbi bapaknya dan rahim ibunya . Allah berfirman :
)وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ) (لأعراف:172)
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):"Bukankah Aku ini Rabbmu". Mereka menjawab:"Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)". (QS. 7:172)
Oleh sebab itu itulah , setiap manusia yang lahir , maka dia lahir dalam keadaan islam , mengenal Allah Rabb semesta alam dan mengakuiNya sebagai sesembahannya .. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam :
مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ
Artinya : Tidaklah setiap anak kecuali dia dilahirkan di atas fithrah , maka bapak ibunyalah yang menjadikan dia yahudi , atau menjadikan dia nashrani , atau menjadikan dia majusi . ( HR . Al-Bukhary Muslim )
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan setelah kalimat "fithrah" : yahudi , nashrani , dan majusi, yang menunjukkan bahwa maksud dari Al-Fithrah adalah islam.
Hal ini diperjelas di dalam firman Allah :
(فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (30) مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) )
Artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, ( 30 ) dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertaqwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah ( 31 ) (QS. Ar-Ruum : 30-31)
Makna ( Al-Fithrah ) adalah agama islam, sebagaimana datang penafsirannya dari Mujahid (Diriwayatkan oleh Ath-Thabary dalam tafsirnya 20/97) .
Berkata Ibnu Abdil Barr : " Mereka berkata( makna ) inilah yang dikenal oleh kebanyakan ulama tafsir dari para salaf ( para pendahulu umat). " (At-Tamhid 18/72)
Ayat ini mempertegas bahwa yang dimaksud dengan fithrah manusia adalah agama yang hanif ( agama islam ) yang mengajak kepada penyembahan semata-mata terhadap Allah Rabb semesta alam .
Dari ayat dan hadist di atas kita mengerti bahwa semua manusia dilahirkan dalam keadaan islam , dan dia tetap akan islam selama tidak ada yang mengubahnya menjadi yahudi , nashrani , majusi dll .
Oleh karena itu di dalam hadist qudsy , Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : ( Allah berkata ) :
إِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا
Artinya : Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaKu dalam keadaan hunafa' ( islam ) semuanya , kemudian syetan memalingkan mereka dari agama mereka , dan mengharamkan atas mereka apa yang Aku halalkan , dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak Aku turunkan keterangannya . ( HR . Muslim )
Allah mengabarkan dalam hadist qudsy ini bahwa kita pada asalnya diciptakan dalam keadaan hunafa' . Makna ( hunafa' ) adalah dalam keadaan islam , sebagaimana penjelasan Imam Nawawy ( lihat Syarh Shahih Muslim 9 / 247 ) . Kemudian syetanlah yang menjadikan manusia berubah fithrahnya .
Dari keterangan di atas kita bisa mengambil beberapa kesimpulan:
1. Pada asalnya semua manusia sudah islam semenjak di dalam perut ibunya.
2. Dia bisa menjadi kafir setelah itu karena pengaruh syetan dari kalangan jin dan manusia
3. Seseorang yang masih dalam keadaan fithrah maka tidak perlu dia bersyahadat dengan maksud supaya masuk dalam agama islam, karena dia sudah masuk dan masih di dalam agama islam. Akan tetapi silakan dia memperbanyak membaca syahadat untuk memperkuat keimanan dia sebagai seorang muslim . Sebagaimana yang kita baca di dalam dzikir – dzikir seperti adzan , tasyahhud , khutbah , dan di dalam kehidupan setiap muslim sehari-hari
4. Seseorang yang sudah rusak fithrahnya maka dia harus kembali bersyahadat sebagai syarat untuk masuk islam lagi. Ini wajib diucapkan oleh orang kafir atau orang murtad yang mau masuk islam karena fithrahnya telah berubah . Sehingga untuk mengembalikan fithrah itu harus bersyahadat lagi .
Wallahu a'lamu .
Read More......

Kamis, 04 Juni 2009

Asal Usul Pembagian Tauhid

Tanya : Katanya tauhid dibagi tiga ( rububiyyah, uluhiyyah, asma' dan shifat) , siapa yang membagi demikian ? Di kitab apa ? Jilid dan halaman ? ( 0500338261)


Jawab :
Tauhid terbagi menjadi 3 ( Tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan Asma' wa sifat ) berdasarkan istiqra' ( penelitian menyeluruh ) terhadap dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana ulama nahwu membagi kalimat di dalam bahasa arab menjadi 3 : Isim, fi'il, dan huruf, berdasarkan penelitian menyeluruh terhadap kalimat-kalimat yang ada di dalam bahasa arab. ( Lihat Kitab At-Tahdzir min Mukhtasharat Muhammad Ash-Shabuny fii At-Tafsir karangan Syeikh Bakr Abu Zaid hal: 30, cet. Darur Rayah- Riyadh )
Diantara dalil-dalil tauhid rububiyyah ( pengesaan Allah dalam penciptaan, pembagian rezeki, dan pengaturan alam ) :
Firman Allah ta'ala :
(اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ)(الزمر:62)
Artinya : Allah menciptakan segala sesuatu. ( QS. 39: 62 )
Dan firman Allah ta'ala :
)وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ) (هود:6)
Artinya : Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. 11:6)
Dan firman Allah ta'ala :
(قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلا تَتَّقُونَ) (يونس:31)
Artinya : Katakanlah:"Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan" Maka mereka menjawab:"Allah". Maka katakanlah:"Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepada-Nya)?" (QS. 10:31)
Diantara dalil-dalil tauhid uluhiyyah ( pengesaan Allah di dalam ibadah ) :
Firman Allah ta'alaa :
)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) (الفاتحة:5)
Artinya : Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (QS. 1:5)
Dan firman Allah ta'alaa :
)قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصاً لَهُ دِينِي) (الزمر:14)
Artinya : Katakanlah:"Hanya Allah saja yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku" (QS. 39:14)
Dan firman Allah ta'alaa :
)قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ) (الزمر:64)
Artinya : Katakanlah:"Maka apakah kamu menyuruh aku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?" (QS. 39:64)
Diantara dalil-dalil tauhid asma' wa sifat ( pengesaan Allah di dalam nama-namanya yang husna ( yang terbaik ) dan sifat-sifatNya yang tinggi ) :
Firman Allah ta'ala :
)قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَنَ أَيّاً مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى)(الاسراء: من الآية110)
Artinya : Katakanlah:"Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)
Dan firman Allah ta'ala :
( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ)(الشورى: من الآية11)
Artinya : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 42:11)
Dan firman Allah ta'alaa :
( وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ)(النحل: من الآية60)
Artinya : Dan Allah mempunyai permisalan yang paling tinggi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. 16:60)
Terkumpul 3 jenis tauhid ini di dalam sebuah firman Allah :
(رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً) (مريم:65) Artinya : Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah) (QS. 19:65)
Tauhid rububiyyah tercantum dalam firmanNya: رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا (Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya )
Tauhid uluhiyyah tercantum dalam firmanNya : فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ (maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya.)
Tauhid Asma' wa Sifat tercantum dalam firmanNya : هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيّاً (Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah) )
Kami sebutkan disini diantara ulama-ulama yang menyebutkan pembagian ini baik secara jelas maupun dengan isyarat.
1. Imam Abu Ja'far Ath-Thahawy ( wafat th. 321 ) , di dalam muqaddimah kitab beliau Al-Aqidah Ath-Thahawiyyah . Beliau berkata :
نقول في توحيد الله معتقدين بتوفيق الله إن الله واحد لا شريك له ، و لا شيء مثله ، و لا شيء يعجزه ، و لا إله غيره
Artinya: Kami mengatakan di dalam pengesaan kepada Allah dengan meyakini : bahwa Allah satu tidak ada sekutu bagiNya, tidak ada yang serupa denganNya, tidak ada yang melemahkanNya, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selainNya.
Perkataan beliau " tidak ada yang serupa denganNya " : ini termasuk tauhid Asma' dan Sifat .
Perkataan beliau " tidak ada yang melemahkanNya " : ini termasuk tauhid Rububiyyah.
Perkataan beliau " dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selainNya." : ini termasuk tauhid Uluhiyyah.
2. Ibnu Abi Zaid Al-Qairawany Al-Maliky ( wafat th. 386 H ) , di dalam muqaddimah kitab beliau Ar-Risalah Al-Fiqhiyyah hal. 75 ( cet. Darul Gharb Al-Islamy ) . Beliau mengatakan :
من ذلك : الإيمان بالقلب و النطق باللسان بأن الله إله واحد لا إله غيره ، و لا شبيه له و لا نظير، ... ، خالقا لكل شيء ، ألا هو رب العباد و رب أعمالهم والمقدر لحركاتهم و آجالهم .
Artinya : Termasuk diantaranya adalah beriman dengan hati dan mengucapkan dengan lisan bahwasanya Allah adalah sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya…Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka .
Perkataan beliau " sesembahan yang satu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia " : ini termasuk tauhid Uluhiyyah .
Perkataan beliau " tidak ada yang serupa denganNya dan tidak ada tandinganNya " : ini termasuk tauhid Asma' wa Sifat.
Perkataan beliau " Pencipta segala sesuatu, ketahuilah bahwa Dia adalah pencipta hamba-hambaNya dan pencipta amalan-amalan mereka, dan yang menakdirkan gerakan-gerakan mereka dan ajal-ajal mereka " : ini termasuk tauhid Rubiyyah.
3. Ibnu Baththah Al-'Akbary ( wafat th. 387 H ), di dalam kitab beliau Al-Ibanah 'an Syariatil Firqatin Najiyyah wa Mujanabatil Firaq Al-Madzmumah ( 5 / 475 )
وذلك أن أصل الإيمان بالله الذي يجب على الخلق اعتقاده في إثبات الإيمان به ثلاثة أشياء : أحدها : أن يعتقد العبد ربانيته ليكون بذلك مباينا لمذهب أهل التعطيل الذين لا يثبتون صانعا . الثاني : أن يعتقد وحدانيته ، ليكون مباينا بذلك مذاهب أهل الشرك الذين أقروا بالصانع وأشركوا معه في العبادة غيره . والثالث : أن يعتقده موصوفا بالصفات التي لا يجوز إلا أن يكون موصوفا بها من العلم والقدرة والحكمة وسائر ما وصف به نفسه في كتابه
Artinya : Dan yang demikian itu karena pokok keimanan kepada Allah yang wajib atas para makhluk untuk meyakininya di dalam menetapkan keimanan kepadaNya ada 3 perkara :
Pertama : Hendaklah seorang hamba meyakini rabbaniyyah Allah ( kekuasaan Allah ) supaya dia membedakan diri dari jalan orang-orang atheisme yang mereka tidak menetapkan adanya pencipta.
Kedua : Hendaklah meyakini wahdaniyyah Allah ( keesaan Allah dalam peribadatan ) supaya dia membedakan diri dari jalan orang-orang musyrik yang mereka mengakui adanya pencipta alam kemudian mereka menyekutukanNya dengan selainNya.
Ketiga : Hendaklah meyakini bahwasanya Dia bersifat dengan sifat-sifat yang memang harus Dia miliki, seperti ilmu, qudrah ( kekuasaan ), hikmah ( kebijaksanaan ) , dan sifat-sifat yang lain yang Dia tetapkan di dalam kitabNya.
4. Abu Bakr Muhammad bin Al-Walid Ath-Thurthusyi ( wafat th. 520 H ), di dalam muqaddimah kitab beliau Sirajul Muluk ( 1 / 1 ) , beliau berkata :
وأشهد له بالربوبية والوحدانية. وبما شهد به لنفسه من الأسماء الحسنى. والصفات العلى. والنعت الأوفى
Artinya : Dan aku bersaksi atas rububiyyahNya dan uluhiyyahNya, dan atas apa-apa yang Dia bersaksi atasnya untuk dirinya berupa nama-nama yang paling baik dan sifat-sifat yang tinggi dan sempurna.
5. Al-Qurthuby ( wafat th. 671 H ) , di dalam tafsir beliau (1/ 102) , beliau berkata ketika menafsirkan lafdzul jalalah ( الله) di dalam Al-Fatihah:
فالله اسم للموجود الحق الجامع لصفات الإلهية، المنعوت بنعوت الربوبية، المنفرد بالوجود الحقيقي، لا إله إلا هو سبحانه.
Artinya : Maka ( الله ) adalah nama untuk sesuatu yang benar-benar ada, yang mengumpulkan sifat-sifat ilahiyyah ( sifat-sifat sesuatu yang berhak disembah ) , yang bersifat dengan sifat-sifat rububiyyah ( sifat-sifat sesuatu yang berkuasa ) , yang sendiri dengan keberadaan yang sebenarnya, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya.
6. Syeikh Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithy ( wafat th. 1393 H ) di dalam Adhwaul Bayan (3 / 111-112), ketika menafsirkan ayat:
)إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْراً كَبِيراً) (الاسراء:9)
7. Syeikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, diantaranya dalam kitab beliau Kaifa Nuhaqqiqu At-Tauhid ( hal. 18-28 ) .
8. Syeikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, diantaranya dalam Fatawa Arkanil Islam ( hal. 9-17 )
9. Syeikh Abdul Muhsin bin Hamd Al-'Abbad Al-Badr ( pengajar di Masjid Nabawy ), diantaranya dalam muqaddimah ta'liq beliau terhadap kitab Tathhir ul I'tiqad 'an Adranil Ilhad karangan Ash-Shan'any dan kitab Syarhush Shudur fi Tahrim Raf'il Qubur karangan Asy-Syaukany (hal . 12-20.)
10 Syeikh Abdul Aziz Ar-Rasyid, di dalam kitab beliau At-Tanbihat As-Saniyyah 'ala Al-Aqidah Al-Wasithiyyah (hal. 14) .
11. Syeikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr, di dalam kitab beliau Al-Mukhtashar Al-Mufid fi Bayani Dalaili Aqsamit Tauhid. Kitab ini adalah bantahan atas orang yang mengingkari pembagian tauhid.
12. Dan lain-lain
Wallahu ta'ala A'lam.
Read More......