Sabtu, 06 Oktober 2012

Keutamaan Ilmu Agama Di Atas Harta Dunia (3-terakhir)

"Ilmu bertambah (tumbuh berkembang) terus dengan diamalkan, sedangkan harta berkurang setiap kali diinfaqkan (dikeluarkan)" Ilmu bertambah dengan dua cara, pertama dengan diamalkan, yang kedua dengan disampaikan kepada orang lain. Oleh karena itu sebagian riwayat datang dengan lafadz "على الإنفاق" yaitu bertambah ilmu tersebut dengan diinfaqkan kepada orang lain . Ilmu bertambah dan tumbuh ketika diamalkan karena ilmu tersebut akan semakin menancap kokoh di dalam hatinya. Dan ilmu akan bertambah ketika disampaikan ke orang lain karena pemiliknya setiap kali menyampaikan ilmu tersebut maka pertama: ilmu yang ada di dalam hatinya akan bertambah dalam, dan yang kedua: semakin banyak orang yang mengetahui ilmu tersebut. Ilmu yang awalnya hanya diketahui oleh satu orang, kemudian disampaikan kepada 5 orang, maka sekarang yang mengetahui ilmu tersebut menjadi 6 orang. Dan orang yang pertama tidak akan kehilangan ilmu tersebut. Jadi ilmu seperti api yang awalnya kecil, apabila diambil darinya maka akan bertambah dan asalnya tidak berkurang. Bahkan sering seseorang ketika menyampaikan suatu masalah, dia justru bisa mengetahui masalah yang lain, yang sebelumnya tidak dia ketahui. Dan ini adalah sebagai balasan dari Allah bagi orang yang berusaha mengajari ilmu bagi manusia, Allah akan mengajari dia juga ilmu. Dalam sebuah hadist Qudsi Allah mengatakan: يا ابن آدم أنفق أنفق عليك "Wahai anak Adam, berinfaqlah maka Aku akan berinfaq untukmu" (Muttafaqun 'alaihi, dari hadist Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu) Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa infaq disini mencakup infaq ilmu. (Lihat Miftah Daari As-Sa'aadah 1/128). Adapun harta, setiap kali dibelanjakan untuk kepentingan dunia maka dia akan berkurang jumlahnya secara zhahir. "Mencintai ilmu adalah termasuk agama, yang kita beribadah kepada Allah dengan rasa cinta tersebut" Ilmu agama adalah warisan para nabi 'alaihimussalam, Allah mencintai ilmu ini dan mencintai para pembawanya, dan mencintai apa yang dicintai Allah adalah ibadah, oleh karena itu mencintai ilmu adalah termasuk diperintahkan dalam agama dan merupakan ibadah kepada Allah. Adapun mencintai harta dunia maka bukan termasuk ibadah, dan dalam keadaan tertentu bisa tercela. "Ilmu membuahkan ketaatan orang lain kepada orang yang berilmu tersebut semasa dia hidup" Maksudnya seseorang yang berilmu, ilmunya akan menjadi sebab adanya ketaatan orang lain kepadanya, tanpa adanya pemaksaan. Apabila dia berbicara akan didengar, apabila dia berpendapat akan dianggap pendapatnya, bahkan oleh para penguasa sekalipun. Yang demikian karena para ulama mereka tidak berbicara dan berpendapat kecuali dengan ilmu yang diambil dari firman Allah dan hadist Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. "Ilmu meninggalkan sebutan yang baik setelah meninggalnya orang alim tersebut" Maksudnya seorang alim apabila meninggal maka nama baik dan jasanya akan dikenang oleh manusia sepanjang masa. Lihat para ulama yang meninggal ratusan tahun yang silam, dari semenjak para sahabat sampai zaman sekarang, Allah masih mengabadikan nama mereka sampai hari ini. Nama-nama mereka banyak disebut di majelis-majelis ilmu, di kitab-kitab dan lain-lain. Buku-buku mereka masih dibaca dan memenuhi perpustakaan-perpustakaan. "Apa yang diperbuat karena harta akan hilang bersama kemusnahannya" Maksudnya hubungan antara manusia yang hanya didasarkan harta akan musnah bersama musnahnya harta tersebut, seperti seseorang yang mencintai atau menghormati orang lain karena diberi harta, maka ketika dia tidak lagi memberinya harta, diapun tidak lagi mencintai dan menghormatinya. Berbeda dengan hubungan dan saling mencintai karena ilmu maka ini akan kekal meskipun 'alim tersebut sudah tidak bisa memberikan ilmu karena pikun misalnya, bahkan ketika dia sudah meninggal, hati manusia masih mencintainya. "Orang yang menumpuk harta maka mati (nama mereka) sedang mereka dalam keadaan hidup (jasadnya), dan para ulama (namanya) akan tetap ada selamanya; jasad mereka hilang (musnah), tapi sifat-sifat teladan mereka (yaitu para ulama) ada di dalam hati (manusia)" Maksudnya orang yang memiliki harta maka nama-nama mereka tidak disebut, dan tidak terkesan dalam hati manusia apabila harta tersebut tidak sampai manfaatnya kepada mereka, sehingga dia dianggap seperti orang yang sudah mati, meskipun mereka sebenarnya hidup. Ini berbeda dengan ilmu, dimana pemiliknya meskipun sudah meninggal tetapi tetap diingat oleh manusia dalam hati mereka dan sering disebut oleh lisan mereka, seakan-akan para ulama tersebut masih hidup. Demikianlah sebagian keutamaan ilmu agama di atas harta dunia yang disebutkan oleh Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, dan Ibnul Qayyim rahimahullahu telah menyebutkan banyak keutamaan ilmu di atas harta dalam kitab beliau Miftah Daar As-Sa'aadah, diantaranya: 1. Ilmu adalah warisan para nabi; sedang harta adalah warisan raja dan orang kaya 2. Ilmu ikut masuk menemani pemiliknya di alam kubur, sedang harta meninggalkan pemiliknya. 3. Ilmu menghakimi harta,dan harta tidak menghakimi ilmu. 4. Ilmu yang bermanfaat hanya Allah berikan kepada orang yang beriman, sedang harta Allah berikan kepada orang mu'min maupun kafir. 5. Seorang 'alim dibutuhkan oleh semua orang dari para raja sampai rakyat jelata, sedangkan orang kaya yang butuh kepadanya hanya orang miskin. 6. Ilmu mengajak pemiliknya untuk tawadhu' dan ikhlash kepada Allah, sedang harta mengajak pemiliknya untuk pamer, menyombongkan diri, bermaksiat serta menyembah kepada harta tersebut. 7. Kelezatan ilmu terus menerus dirasakan, baik ketika diawal dia mendapatkan atau ketika dia mengamalkan dan menyampaikannya. Sedangkan harta nikmatnya hanya di awal ketika dia baru mendapatkannya. Dan bukanlah maksud dari apa yang kita sampaikan di atas, adalah anjuran meninggalkan dunia secara total. Silakan kita bekerja mencari dunia namun jadikanlah ilmu sebagai imam dan pedoman, jadikanlah harta mau diatur dengan ilmu agama. Ilmu agama mengatur supaya kita mencari harta yang halal dan meninggalkan yang haram. Ilmu agama menyuruh kita bertawakkal kepada Allah dan tidak bertawakkal kepada sebab. Ilmu menyuruh kita untuk qanaah (merasa cukup dengan pemberian Allah), meyakini bahwa rezeki sudah ditetapkan oleh Allah, tidak akan bertambah dan tidak berkurang, menggunakan harta di jalan Allah dan tidak menggunakannya dalam kemaksiatan, dan ilmu agama menyuruh kita supaya harta dunia tidak melalaikan kita dari akhirat. Demikian, wa aakhiru da'waanaa anil hamdu lillahi rabbil 'alamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar